<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>Angkasawan</title>
    <link>https://kosmonaut.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Thu, 07 May 2026 16:09:27 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Bunyi bel rumah terdengar nyaring ditelinga, namun enggan aku bergerak dari...</title>
      <link>https://kosmonaut.writeas.com/xzo4isp298u620tb?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#xA;&#xA;Bunyi bel rumah terdengar nyaring ditelinga, namun enggan aku bergerak dari sofa yang kelewat nyaman disinggahi ini. Mataku bergulir menatap jam dinding, pukul setengah enam sore siapa yang datang diwaktu ini, pikirku. &#xA;&#xA;&#34;Iya, sebentar,&#34; sahutku pelan.&#xA;&#xA;Kenop ditekan kebawah, pintu serupa persegi panjang itu aku gerakkan hingga terbuka akses keluar rumah, hembusan angin seketika menerpa sekujur tubuhku. Ah, setelan yang hitam dari atas hingga bawah ini, aku mengenalnya. &#xA;&#xA;&#34;Yohan, apa yang membawamu kemari?&#34;&#xA;&#xA;Bocah tinggi itu tidak menjawab pertanyaanku, aku sudah terbiasa. Ia menatapku tajam. Oh, Yohan bisakah kau berbicara dengan mulutmu daripada melalui matamu, anak baik?&#xA;&#xA;&#34;Anjing siapa yang kau bawa?&#34; tanyaku tanggap melihat seekor anjing putih dengan telinga merah muda digendongan pemuda itu. &#xA;&#xA;&#34;Aku menemukannya di jalanan,&#34; jawab Yohan. &#xA;&#xA;&#34;Keadaannya terlihat buruk, bukankah sebaiknya kita membawanya ke dokter hewan?&#34; &#xA;&#xA;Jadi ini yang membawamu datang kerumahku, Yohan.&#xA;Entah sejak kapan bocah ini menjadi sangat dekat denganku hingga kediamanku tidak lagi asing baginya. &#xA;Sejujurnya Yohan pun sudah aku anggap sebagai adik laki-laki ku sendiri. &#xA;&#xA;Kupikir itu adalah sebuah keajaiban, kita yang tidak terikat hubungan apapun menjadi terpaut jalinan yang tidak jelas dinamakan apa. &#xA;&#xA;Adik dan kakak, mungkin? &#xA;&#xA;&#34;Tunggu sebentar aku akan bersiap, kau masuklah dulu.&#34;&#xA;&#xA;___&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Bunyi bel rumah terdengar nyaring ditelinga, namun enggan aku bergerak dari sofa yang kelewat nyaman disinggahi ini. Mataku bergulir menatap jam dinding, pukul setengah enam sore siapa yang datang diwaktu ini, pikirku.</p>

<p>“Iya, sebentar,” sahutku pelan.</p>

<p>Kenop ditekan kebawah, pintu serupa persegi panjang itu aku gerakkan hingga terbuka akses keluar rumah, hembusan angin seketika menerpa sekujur tubuhku. Ah, setelan yang hitam dari atas hingga bawah ini, aku mengenalnya.</p>

<p>“Yohan, apa yang membawamu kemari?”</p>

<p>Bocah tinggi itu tidak menjawab pertanyaanku, aku sudah terbiasa. Ia menatapku tajam. Oh, Yohan bisakah kau berbicara dengan mulutmu daripada melalui matamu, anak baik?</p>

<p>“Anjing siapa yang kau bawa?” tanyaku tanggap melihat seekor anjing putih dengan telinga merah muda digendongan pemuda itu.</p>

<p>“Aku menemukannya di jalanan,” jawab Yohan.</p>

<p>“Keadaannya terlihat buruk, bukankah sebaiknya kita membawanya ke dokter hewan?”</p>

<p>Jadi ini yang membawamu datang kerumahku, Yohan.
Entah sejak kapan bocah ini menjadi sangat dekat denganku hingga kediamanku tidak lagi asing baginya.
Sejujurnya Yohan pun sudah aku anggap sebagai adik laki-laki ku sendiri.</p>

<p>Kupikir itu adalah sebuah keajaiban, kita yang tidak terikat hubungan apapun menjadi terpaut jalinan yang tidak jelas dinamakan apa.</p>

<p>Adik dan kakak, mungkin?</p>

<p>“Tunggu sebentar aku akan bersiap, kau masuklah dulu.”</p>

<p>___</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kosmonaut.writeas.com/xzo4isp298u620tb</guid>
      <pubDate>Fri, 03 Dec 2021 06:02:30 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Erased</title>
      <link>https://kosmonaut.writeas.com/erased-n29f?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#xA;Erased&#xA;&#xA;  ⚠ Penulisan mungkin tidak sesuai PUEBI &#xA;&#xA;Yang belum terjadi maka tidak bisa dirubah.&#xA;&#xA;Berulang kali terus gagal, masa depan dimana semua tokoh merasakan bahagia seolah mustahil diwujudkan.&#xA;Persembahan diberi untuk memanifestasi masa yang gemilang. Tidak ada yang cuma-cuma, merubah takdir mestinya harus dengan bayaran yang setimpal.&#xA;&#xA;Namun perjalanan hidup dan mati yang rumit bagai tak mengubah getir didalamnya. Luka itu seakan melekat di-sum-sum tulang. Bak noda permanen yang tak kunjung pudar.&#xA;&#xA;Ada yang salah. Takemichi menyadarinya setelah putaran tak terkira. Sang antagonis telah gugur, alasan terbesarnya melakukan lompatan waktu ke masa lalu pun sudah berjaya. Tapi kenapa hanya dia. Kenapa hanya Sano Manjirou yang tidak ada dikesenangan ini.&#xA;Jujur saja, Takemichi sempat berpikir bahwa jalan hidup yang dipilih oleh pemimpin toman itu tak payah lagi diganggu. &#xA;&#xA;Semua hidup, masa depan yang terbaik. Sampai akhirnya Takemichi sadar, hidup bukan berarti bahagia. &#xA;&#xA;&#34;Kematian Emma membuatnya benar- benar hancur.&#34;&#xA;&#xA;Takemichi menjatuhkan pandangannya, menatap ujung kaki dengan sendu. Ia tahu itu, bahkan dia yang kini berbicara pun tak kalah hancurnya.&#xA;&#xA;&#34;Tapi dia belum menjauh saat itu.&#34;&#xA;&#xA;Lantas apa yang membuatnya menjauh? Sekeras apa pun Takemichi berpikir ia tak menemukan dalih mengapa sang surai asfar berubah kepribadiannya.&#xA;&#xA;&#34;Pada akhirnya Mikey bertemu seseorang yang bisa memudarkan luka dihatinya.&#34;&#xA;&#xA;Draken—pria yang sedari tadi berbicara tersenyum simpul. Sedangkan manusia lain yang berada di atelir mengangkat wajahnya, bertanya-tanya mengenai seseorang yang berhasil memudarkan luka di hati sang invincible.&#xA;&#xA;&#34;Mereka bertemu saat tahun kedua sekolah menengah atas. Mikey mulai berubah, dia kembali seperti dirinya yang dulu sebelum kehilangan adiknya.&#34;&#xA;&#xA;Takemichi membelalak, ternyata ada momen seperti itu dimasa lalu. Wajar saja ia tidak tahu karena dua tahun sebelum kejadian itu ia sudah kembali ke masa depan. &#xA;&#xA;Siapa orang itu? Apakah menyimpangnya jalan hidup Mikey berhubungan dengan orang tersebut? Sekelebat pertanyaan mulai muncul di otak. &#xA;&#xA;&#34;Untuk pertama kali dalam hidupnya Mikey merasakan jatuh cinta, pemuda itu merasakan sesuatu yang berbeda dihatinya selain kepedihan.&#34;&#xA;&#xA;Sekejap mengabai ketakutannya, Takemichi tanpa sadar mengulas senyum, ia senang mengetahui bahwa Mikey pernah mencicipi asmara.&#xA;&#xA;Draken menegakkan tubuhnya, kedua tangan berpangku diatas lutut, ia berbalik menatap takemichi. Sorotnya sayu, seperti awan kelabu.&#xA;&#xA;&#34;Namun itu tidak berlangsung lama, kisahnya berakhir tragis.&#34;&#xA;&#xA;Barangkali Takemichi  sudah menduga hal itu,  yang menjadi pertanyaan adalah skenario macam apa yang mengakhiri kisah Mikey bersama cinta pertamanya.&#xA;&#xA;&#34;Gadis itu dijadikan persembahan agar Mikey kembali ke kegelapan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku tidak mengerti maksudnya,&#34; Takemichi membuka mulut.&#xA;&#xA;&#34;Lagi dan lagi Mikey harus merasa kehilangan. Gadisnya dipaksa bertemu kematian, orang orang sialan itu merenggut nyawanya.&#34; Draken menggeram, tangannya dikepal, rahang mengeras mengingat masa lalu. &#xA;&#xA;Bukankah kisaki sudah tiada?  lalu siapa lagi yang ingin Mikey terus berada dijalan kenakalan. &#xA;&#xA;&#34;Sejak kematiannya Mikey mulai merasa jika dirinya merupakan kesialan, dia mulai menjaga jarak, aku pikir bahwa Mikey tak ingin lagi melihat orang orang terdekatnya berjatuhan. Alhasil keinginan orang-orang itu terwujud, Mikey menjadi sosok yang mengerikan.&#34;&#xA;&#xA;Takemichi hanya bisa terdiam, banyak kontradiksi yang bermunculan diotaknya.&#xA;&#xA;&#34;Jika kau penasaran siapa orang yang sangat ingin Mikey terus berada dikegelapan maka jawabnya adalah Sanzu Haruchiyo.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Takemichi ingin, sangat ingin mengubah masa lalu, mencegah kematian yang belum terjadi. Tapi terdapat satu hambatan yang tak dapat ia tepiskan. Perjalanan waktu yang dilakukan olehnya hanya bisa kembali ke dua belas tahun yang lalu, sedangkan pertemuan Mikey dengan pelipur lara-nya terjadi sepuluh tahun yang lalu saat Mikey masih duduk dikelas dua sekolah menengah atas.&#xA;&#xA;Bagaimana caranya mengubah sesuatu yang bahkan masih sangat jauh dari waktu terjadinya?&#xA;&#xA;Satu satunya cara yang terpikir oleh Takemichi adalah meniadakan pertemuan yang berakhir tragedi. Semua tidak akan terjadi jika Mikey tak pernah dipertemukan dengan cinta pertamanya namun itu juga berarti kisah filantropi Mikey bersama kekasihnya tak akan pernah ada di catatan hidup.&#xA;&#xA;Sangat disayangkan, tapi apa boleh buat? Daripada kematian dan keputus-asaan yang mengambil alih, lebih baik jika ditiadakan.&#xA;&#xA;Takemichi kembali ke masa lalu berbekal sebuah nama. Nama sekolah dan nama gadis itu, gadis yang dijadikan persembahan untuk kembalinya Mikey ke jalan yang menyimpang.&#xA;&#xA;Hanya perlu mencegah Mikey bersekolah ditempat yang dulu seharusnya sudah cukup. &#xA;&#xA;Ditahun ini penggunaan internet masih sangat minim Takemichi kesulitan untuk mencari identitas perempuan itu. Tidak ada alasan khusus, ia hanya penasaran orang macam apa yang sukses menarik hati Mikey.&#xA;&#xA;&#34;Bagaimana jika takdirmu dirubah tanpa sepengetahuanmu?&#34; &#xA;&#xA;Takemichi merasa seperti tertangkap basah sedang melakukan tindak kejahatan. Tubuhnya menegang, netranya menatap jalanan raya dengan tajam.&#xA;&#xA;&#34;Tiba-tiba saja aku berpikir demikian dan terkadang yang aku pikirkan sering terjadi.&#34;&#xA;&#xA;Toleh ke kanan dan berjumpalah sang perombak takdir dengan gadis rupawan yang tidak dikenali olehnya.&#xA;&#xA;&#34;Maaf berbicara tidak jelas, hanya saja suasananya sangat sepi, hanya kita berdua disini.&#34;&#xA;&#xA;Cengiran yang terakhir dilihat sebelum Takemichi mengedarkan pandangannya ke sekitar halte bus.&#xA;Benar, hanya mereka berdua yang ada ditempat tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Bisa saja itu terjadi.&#34; Takemichi tak mau memandang gadis disebelahnya. Mengingat kembali bahwa ia merupakan seorang pengubah takdir jadi perkataan gadis itu tidak bisa dianggap lelucon.&#xA;&#xA;&#34;Kau dan aku sama-sama aneh.&#34; Kekehan terdengar oleh rungu. &#34;Takdir sudah ditetapkan bagaimana bisa dirubah.&#34;&#xA;&#xA;Takemichi tersenyum miring mendengarnya.&#xA;&#xA;Dunia seolah berhenti berotasi, telinga berdenging kuat. Pelafalan nama membuat Takemichi mematung dalam waktu yang cukup lama. Bus yang ditunggu pun sudah berangkat, pergi bersama gadis yang beberapa saat lalu berbincang bersamanya.&#xA;&#xA;&#34;Firasat yang mengerikan,&#34; desisnya.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Terhapus, narasi percintaan yang mulanya tersemat dibuku takdir kini hilang tergantikan. Hari demi hari yang dilalui penuh afeksi telah sirna, lebih tepatnya tidak pernah ada.&#xA;&#xA;Selisih jalan bagai asing, tiada sapaan hangat, mereka hidup dalam dunianya sendiri. Terdetak untuk bertatap namun hanya sekilas kembali berpaling.&#xA;&#xA;Kisah Mikey dan cinta pertamanya hilang bagai kabut diburu sinar matahari.&#xA;&#xA;Masa depan berubah menjadi lebih baik. Takemichi berhasil.&#xA;&#xA;Berhasil memotong ikatan yang bahkan belum terikat.&#xA;&#xA;Memang sebaiknya mereka tidak pernah bertemu. &#xA;&#xA;FIN.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Erased</strong></p>

<blockquote><p>⚠ Penulisan mungkin tidak sesuai PUEBI</p></blockquote>

<p>Yang belum terjadi maka tidak bisa dirubah.</p>

<p>Berulang kali terus gagal, masa depan dimana semua tokoh merasakan bahagia seolah mustahil diwujudkan.
Persembahan diberi untuk memanifestasi masa yang gemilang. Tidak ada yang cuma-cuma, merubah takdir mestinya harus dengan bayaran yang setimpal.</p>

<p>Namun perjalanan hidup dan mati yang rumit bagai tak mengubah getir didalamnya. Luka itu seakan melekat di-sum-sum tulang. Bak noda permanen yang tak kunjung pudar.</p>

<p>Ada yang salah. Takemichi menyadarinya setelah putaran tak terkira. Sang antagonis telah gugur, alasan terbesarnya melakukan lompatan waktu ke masa lalu pun sudah berjaya. Tapi kenapa hanya <em>dia</em>. Kenapa hanya Sano Manjirou yang tidak ada dikesenangan ini.
Jujur saja, Takemichi sempat berpikir bahwa jalan hidup yang dipilih oleh pemimpin toman itu tak payah lagi diganggu.</p>

<p>Semua hidup, masa depan yang terbaik. Sampai akhirnya Takemichi sadar, hidup bukan berarti bahagia.</p>

<p>“Kematian Emma membuatnya benar- benar hancur.”</p>

<p>Takemichi menjatuhkan pandangannya, menatap ujung kaki dengan sendu. Ia tahu itu, bahkan dia yang kini berbicara pun tak kalah hancurnya.</p>

<p>“Tapi dia belum menjauh saat itu.”</p>

<p>Lantas apa yang membuatnya menjauh? Sekeras apa pun Takemichi berpikir ia tak menemukan dalih mengapa sang surai asfar berubah kepribadiannya.</p>

<p>“Pada akhirnya Mikey bertemu seseorang yang bisa memudarkan luka dihatinya.”</p>

<p>Draken—pria yang sedari tadi berbicara tersenyum simpul. Sedangkan manusia lain yang berada di atelir mengangkat wajahnya, bertanya-tanya mengenai seseorang yang berhasil memudarkan luka di hati sang <em>invincible.</em></p>

<p>“Mereka bertemu saat tahun kedua sekolah menengah atas. Mikey mulai berubah, dia kembali seperti dirinya yang dulu sebelum kehilangan adiknya.”</p>

<p>Takemichi membelalak, ternyata ada momen seperti itu dimasa lalu. Wajar saja ia tidak tahu karena dua tahun sebelum kejadian itu ia sudah kembali ke masa depan.</p>

<p>Siapa orang itu? Apakah menyimpangnya jalan hidup Mikey berhubungan dengan orang tersebut? Sekelebat pertanyaan mulai muncul di otak.</p>

<p>“Untuk pertama kali dalam hidupnya Mikey merasakan jatuh cinta, pemuda itu merasakan sesuatu yang berbeda dihatinya selain kepedihan.”</p>

<p>Sekejap mengabai ketakutannya, Takemichi tanpa sadar mengulas senyum, ia senang mengetahui bahwa Mikey pernah mencicipi asmara.</p>

<p>Draken menegakkan tubuhnya, kedua tangan berpangku diatas lutut, ia berbalik menatap takemichi. Sorotnya sayu, seperti awan kelabu.</p>

<p>“Namun itu tidak berlangsung lama, kisahnya berakhir tragis.”</p>

<p>Barangkali Takemichi  sudah menduga hal itu,  yang menjadi pertanyaan adalah skenario macam apa yang mengakhiri kisah Mikey bersama cinta pertamanya.</p>

<p>“Gadis itu dijadikan persembahan agar Mikey kembali ke kegelapan.”</p>

<p>“Aku tidak mengerti maksudnya,” Takemichi membuka mulut.</p>

<p>“Lagi dan lagi Mikey harus merasa kehilangan. Gadisnya dipaksa bertemu kematian, orang orang sialan itu merenggut nyawanya.” Draken menggeram, tangannya dikepal, rahang mengeras mengingat masa lalu.</p>

<p>Bukankah kisaki sudah tiada?  lalu siapa lagi yang ingin Mikey terus berada dijalan kenakalan.</p>

<p>“Sejak kematiannya Mikey mulai merasa jika dirinya merupakan kesialan, dia mulai menjaga jarak, aku pikir bahwa Mikey tak ingin lagi melihat orang orang terdekatnya berjatuhan. Alhasil keinginan orang-orang itu terwujud, Mikey menjadi sosok yang mengerikan.”</p>

<p>Takemichi hanya bisa terdiam, banyak kontradiksi yang bermunculan diotaknya.</p>

<p>“Jika kau penasaran siapa orang yang sangat ingin Mikey terus berada dikegelapan maka jawabnya adalah Sanzu Haruchiyo.”</p>

<hr/>

<p>Takemichi ingin, sangat ingin mengubah masa lalu, mencegah kematian yang belum terjadi. Tapi terdapat satu hambatan yang tak dapat ia tepiskan. Perjalanan waktu yang dilakukan olehnya hanya bisa kembali ke dua belas tahun yang lalu, sedangkan pertemuan Mikey dengan pelipur lara-nya terjadi sepuluh tahun yang lalu saat Mikey masih duduk dikelas dua sekolah menengah atas.</p>

<p>Bagaimana caranya mengubah sesuatu yang bahkan masih sangat jauh dari waktu terjadinya?</p>

<p>Satu satunya cara yang terpikir oleh Takemichi adalah meniadakan pertemuan yang berakhir tragedi. Semua tidak akan terjadi jika Mikey tak pernah dipertemukan dengan cinta pertamanya namun itu juga berarti kisah filantropi Mikey bersama kekasihnya tak akan pernah ada di catatan hidup.</p>

<p>Sangat disayangkan, tapi apa boleh buat? Daripada kematian dan keputus-asaan yang mengambil alih, lebih baik jika ditiadakan.</p>

<p>Takemichi kembali ke masa lalu berbekal sebuah nama. Nama sekolah dan nama gadis itu, gadis yang dijadikan persembahan untuk kembalinya Mikey ke jalan yang menyimpang.</p>

<p>Hanya perlu mencegah Mikey bersekolah ditempat yang dulu seharusnya sudah cukup.</p>

<p>Ditahun ini penggunaan internet masih sangat minim Takemichi kesulitan untuk mencari identitas perempuan itu. Tidak ada alasan khusus, ia hanya penasaran orang macam apa yang sukses menarik hati Mikey.</p>

<p>“Bagaimana jika takdirmu dirubah tanpa sepengetahuanmu?”</p>

<p>Takemichi merasa seperti tertangkap basah sedang melakukan tindak kejahatan. Tubuhnya menegang, netranya menatap jalanan raya dengan tajam.</p>

<p>“Tiba-tiba saja aku berpikir demikian dan terkadang yang aku pikirkan sering terjadi.”</p>

<p>Toleh ke kanan dan berjumpalah sang perombak takdir dengan gadis rupawan yang tidak dikenali olehnya.</p>

<p>“Maaf berbicara tidak jelas, hanya saja suasananya sangat sepi, hanya kita berdua disini.”</p>

<p>Cengiran yang terakhir dilihat sebelum Takemichi mengedarkan pandangannya ke sekitar halte bus.
Benar, hanya mereka berdua yang ada ditempat tersebut.</p>

<p>“Bisa saja itu terjadi.” Takemichi tak mau memandang gadis disebelahnya. Mengingat kembali bahwa ia merupakan seorang pengubah takdir jadi perkataan gadis itu tidak bisa dianggap lelucon.</p>

<p>“Kau dan aku sama-sama aneh.” Kekehan terdengar oleh rungu. “Takdir sudah ditetapkan bagaimana bisa dirubah.”</p>

<p>Takemichi tersenyum miring mendengarnya.</p>

<p>Dunia seolah berhenti berotasi, telinga berdenging kuat. Pelafalan nama membuat Takemichi mematung dalam waktu yang cukup lama. Bus yang ditunggu pun sudah berangkat, pergi bersama gadis yang beberapa saat lalu berbincang bersamanya.</p>

<p>“Firasat yang mengerikan,” desisnya.</p>

<hr/>

<p>Terhapus, narasi percintaan yang mulanya tersemat dibuku takdir kini hilang tergantikan. Hari demi hari yang dilalui penuh afeksi telah sirna, lebih tepatnya tidak pernah ada.</p>

<p>Selisih jalan bagai asing, tiada sapaan hangat, mereka hidup dalam dunianya sendiri. Terdetak untuk bertatap namun hanya sekilas kembali berpaling.</p>

<p>Kisah Mikey dan cinta pertamanya hilang bagai kabut diburu sinar matahari.</p>

<p>Masa depan berubah menjadi lebih baik. Takemichi berhasil.</p>

<p>Berhasil memotong ikatan yang bahkan belum terikat.</p>

<p>Memang sebaiknya mereka tidak pernah bertemu.</p>

<p><strong>FIN.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kosmonaut.writeas.com/erased-n29f</guid>
      <pubDate>Wed, 25 Aug 2021 08:08:11 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Erased</title>
      <link>https://kosmonaut.writeas.com/erased-phy3?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#xA;Erased&#xA;&#xA;  ⚠ Penulisan mungkin tidak sesuai PUEBI &#xA;&#xA;Yang belum terjadi maka tidak bisa dirubah.&#xA;&#xA;Berulang kali terus gagal, masa depan dimana semua tokoh merasakan bahagia seolah mustahil diwujudkan.&#xA;Persembahan diberi untuk memanifestasi masa yang gemilang. Tidak ada yang cuma-cuma, merubah takdir mestinya harus dengan bayaran yang setimpal.&#xA;&#xA;Namun perjalanan hidup dan mati yang rumit bagai tak mengubah getir didalamnya. Luka itu seakan melekat di-sum-sum tulang. Bak noda permanen yang tak kunjung pudar.&#xA;&#xA;Ada yang salah. Takemichi menyadarinya setelah putaran tak terkira. Sang antagonis telah gugur, alasan terbesarnya melakukan lompatan waktu ke masa lalu pun sudah berjaya. Tapi kenapa hanya dia. Kenapa hanya Sano Manjirou yang tidak ada dikesenangan ini.&#xA;Jujur saja, Takemichi sempat berpikir bahwa jalan hidup yang dipilih oleh pemimpin toman itu tak payah lagi diganggu. &#xA;&#xA;Semua hidup, masa depan yang terbaik. Sampai akhirnya Takemichi sadar, hidup bukan berarti bahagia. &#xA;&#xA;&#34;Kematian Emma membuatnya benar- benar hancur.&#34;&#xA;&#xA;Takemichi menjatuhkan pandangannya, menatap ujung kaki dengan sendu. Ia tahu itu, bahkan dia yang kini berbicara pun tak kalah hancurnya.&#xA;&#xA;&#34;Tapi dia belum menjauh saat itu.&#34;&#xA;&#xA;Lantas apa yang membuatnya menjauh? Sekeras apa pun Takemichi berpikir ia tak menemukan dalih mengapa sang surai asfar berubah kepribadiannya.&#xA;&#xA;&#34;Pada akhirnya Mikey bertemu seseorang yang bisa memudarkan luka dihatinya.&#34;&#xA;&#xA;Draken—pria yang sedari tadi berbicara tersenyum simpul. Sedangkan manusia lain yang berada di atelir mengangkat wajahnya, bertanya-tanya mengenai seseorang yang berhasil memudarkan luka di hati sang invincible.&#xA;&#xA;&#34;Mereka bertemu saat tahun kedua sekolah menengah atas. Mikey mulai berubah, dia kembali seperti dirinya yang dulu sebelum kehilangan adiknya.&#34;&#xA;&#xA;Takemichi membelalak, ternyata ada momen seperti itu dimasa lalu. Wajar saja ia tidak tahu karena dua tahun sebelum kejadian itu ia sudah kembali ke masa depan. &#xA;&#xA;Siapa orang itu? Apakah menyimpangnya jalan hidup Mikey berhubungan dengan orang tersebut? Sekelebat pertanyaan mulai muncul di otak. &#xA;&#xA;&#34;Untuk pertama kali dalam hidupnya Mikey merasakan jatuh cinta, pemuda itu merasakan sesuatu yang berbeda dihatinya selain kepedihan.&#34;&#xA;&#xA;Sekejap mengabai ketakutannya, Takemichi tanpa sadar mengulas senyum, ia senang mengetahui bahwa Mikey pernah mencicipi asmara.&#xA;&#xA;Draken menegakkan tubuhnya, kedua tangan berpangku diatas lutut, ia berbalik menatap takemichi. Sorotnya sayu, seperti awan kelabu.&#xA;&#xA;&#34;Namun itu tidak berlangsung lama, kisahnya berakhir tragis.&#34;&#xA;&#xA;Barangkali Takemichi  sudah menduga hal itu,  yang menjadi pertanyaan adalah skenario macam apa yang mengakhiri kisah Mikey bersama cinta pertamanya.&#xA;&#xA;&#34;Gadis itu dijadikan persembahan agar Mikey kembali ke kegelapan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku tidak mengerti maksudnya,&#34; Takemichi membuka mulut.&#xA;&#xA;&#34;Lagi dan lagi Mikey harus merasa kehilangan. Gadisnya dipaksa bertemu kematian, orang orang sialan itu merenggut nyawanya.&#34; Draken menggeram, tangannya dikepal, rahang mengeras mengingat masa lalu. &#xA;&#xA;Bukankah kisaki sudah tiada?  lalu siapa lagi yang ingin Mikey terus berada dijalan kenakalan. &#xA;&#xA;&#34;Sejak kematiannya Mikey mulai merasa jika dirinya merupakan kesialan, dia mulai menjaga jarak, aku pikir bahwa Mikey tak ingin lagi melihat orang orang terdekatnya berjatuhan. Alhasil keinginan orang-orang itu terwujud, Mikey menjadi sosok yang mengerikan.&#34;&#xA;&#xA;Takemichi hanya bisa terdiam, banyak kontradiksi yang bermunculan diotaknya.&#xA;&#xA;&#34;Jika kau penasaran siapa orang yang sangat ingin Mikey terus berada dikegelapan maka jawabnya adalah Sanzu Haruchiyo.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Takemichi ingin, sangat ingin mengubah masa lalu, mencegah kematian yang belum terjadi. Tapi terdapat satu hambatan yang tak dapat ia tepiskan. Perjalanan waktu yang dilakukan olehnya hanya bisa kembali ke dua belas tahun yang lalu, sedangkan pertemuan Mikey dengan pelipur lara-nya terjadi sepuluh tahun yang lalu saat Mikey masih duduk dikelas dua sekolah menengah atas.&#xA;&#xA;Bagaimana caranya mengubah sesuatu yang bahkan masih sangat jauh dari waktu terjadinya?&#xA;&#xA;Satu satunya cara yang terpikir oleh Takemichi adalah meniadakan pertemuan yang berakhir tragedi. Semua tidak akan terjadi jika Mikey tak pernah dipertemukan dengan cinta pertamanya namun itu juga berarti kisah filantropi Mikey bersama kekasihnya tak akan pernah ada di catatan hidup.&#xA;&#xA;Sangat disayangkan, tapi apa boleh buat? Daripada kematian dan keputus-asaan yang mengambil alih, lebih baik jika ditiadakan.&#xA;&#xA;Takemichi kembali ke masa lalu berbekal sebuah nama. Nama sekolah dan nama gadis itu, gadis yang dijadikan persembahan untuk kembalinya Mikey ke jalan yang menyimpang.&#xA;&#xA;Hanya perlu mencegah Mikey bersekolah ditempat yang dulu seharusnya sudah cukup. &#xA;&#xA;Ditahun ini penggunaan internet masih sangat minim Takemichi kesulitan untuk mencari identitas perempuan itu. Tidak ada alasan khusus, ia hanya penasaran orang macam apa yang sukses menarik hati Mikey.&#xA;&#xA;&#34;Bagaimana jika takdirmu dirubah tanpa sepengetahuanmu?&#34; &#xA;&#xA;Takemichi merasa seperti tertangkap basah sedang melakukan tindak kejahatan. Tubuhnya menegang, netranya menatap jalanan raya dengan tajam.&#xA;&#xA;&#34;Tiba-tiba saja aku berpikir demikian dan terkadang yang aku pikirkan sering terjadi.&#34;&#xA;&#xA;Toleh ke kanan dan berjumpalah sang perombak takdir dengan gadis rupawan yang tidak dikenali olehnya.&#xA;&#xA;&#34;Maaf berbicara tidak jelas, hanya saja suasananya sangat sepi, hanya kita berdua disini.&#34;&#xA;&#xA;Cengiran yang terakhir dilihat sebelum Takemichi mengedarkan pandangannya ke sekitar halte bus.&#xA;Benar, hanya mereka berdua yang ada ditempat tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Bisa saja itu terjadi.&#34; Takemichi tak mau memandang gadis disebelahnya. Mengingat kembali bahwa ia merupakan seorang pengubah takdir jadi perkataan gadis itu tidak bisa dianggap lelucon.&#xA;&#xA;&#34;Kau dan aku sama-sama aneh.&#34; Kekehan terdengar oleh rungu. &#34;Takdir sudah ditetapkan bagaimana bisa dirubah.&#34;&#xA;&#xA;Takemichi tersenyum miring mendengarnya.&#xA;&#xA;Dunia seolah berhenti berotasi, telinga berdenging kuat. Pelafalan nama membuat Takemichi mematung dalam waktu yang cukup lama. Bus yang ditunggu pun sudah berangkat, pergi bersama gadis yang beberapa saat lalu berbincang bersamanya.&#xA;&#xA;&#34;Firasat yang mengerikan,&#34; desisnya.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Terhapus, narasi percintaan yang mulanya tersemat dibuku takdir kini hilang tergantikan. Hari Demi hari yang dilalui penuh afeksi telah sirna, lebih tepatnya tidak pernah ada.&#xA;&#xA;Selisih jalan bagai asing, tiada sapaan hangat, mereka hidup dalam dunianya sendiri. Terdetak untuk bertatap namun hanya sekilas kembali berpaling.&#xA;&#xA;Kisah Mikey dan cinta pertamanya hilang bagai kabut diburu sinar matahari.&#xA;&#xA;Masa depan berubah menjadi lebih baik. Takemichi berhasil.&#xA;&#xA;Berhasil memotong ikatan yang bahkan belum terikat.&#xA;&#xA;Memang sebaiknya mereka tidak pernah bertemu. &#xA;&#xA;FIN.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Erased</strong></p>

<blockquote><p>⚠ Penulisan mungkin tidak sesuai PUEBI</p></blockquote>

<p>Yang belum terjadi maka tidak bisa dirubah.</p>

<p>Berulang kali terus gagal, masa depan dimana semua tokoh merasakan bahagia seolah mustahil diwujudkan.
Persembahan diberi untuk memanifestasi masa yang gemilang. Tidak ada yang cuma-cuma, merubah takdir mestinya harus dengan bayaran yang setimpal.</p>

<p>Namun perjalanan hidup dan mati yang rumit bagai tak mengubah getir didalamnya. Luka itu seakan melekat di-sum-sum tulang. Bak noda permanen yang tak kunjung pudar.</p>

<p>Ada yang salah. Takemichi menyadarinya setelah putaran tak terkira. Sang antagonis telah gugur, alasan terbesarnya melakukan lompatan waktu ke masa lalu pun sudah berjaya. Tapi kenapa hanya <em>dia</em>. Kenapa hanya Sano Manjirou yang tidak ada dikesenangan ini.
Jujur saja, Takemichi sempat berpikir bahwa jalan hidup yang dipilih oleh pemimpin toman itu tak payah lagi diganggu.</p>

<p>Semua hidup, masa depan yang terbaik. Sampai akhirnya Takemichi sadar, hidup bukan berarti bahagia.</p>

<p>“Kematian Emma membuatnya benar- benar hancur.”</p>

<p>Takemichi menjatuhkan pandangannya, menatap ujung kaki dengan sendu. Ia tahu itu, bahkan dia yang kini berbicara pun tak kalah hancurnya.</p>

<p>“Tapi dia belum menjauh saat itu.”</p>

<p>Lantas apa yang membuatnya menjauh? Sekeras apa pun Takemichi berpikir ia tak menemukan dalih mengapa sang surai asfar berubah kepribadiannya.</p>

<p>“Pada akhirnya Mikey bertemu seseorang yang bisa memudarkan luka dihatinya.”</p>

<p>Draken—pria yang sedari tadi berbicara tersenyum simpul. Sedangkan manusia lain yang berada di atelir mengangkat wajahnya, bertanya-tanya mengenai seseorang yang berhasil memudarkan luka di hati sang <em>invincible.</em></p>

<p>“Mereka bertemu saat tahun kedua sekolah menengah atas. Mikey mulai berubah, dia kembali seperti dirinya yang dulu sebelum kehilangan adiknya.”</p>

<p>Takemichi membelalak, ternyata ada momen seperti itu dimasa lalu. Wajar saja ia tidak tahu karena dua tahun sebelum kejadian itu ia sudah kembali ke masa depan.</p>

<p>Siapa orang itu? Apakah menyimpangnya jalan hidup Mikey berhubungan dengan orang tersebut? Sekelebat pertanyaan mulai muncul di otak.</p>

<p>“Untuk pertama kali dalam hidupnya Mikey merasakan jatuh cinta, pemuda itu merasakan sesuatu yang berbeda dihatinya selain kepedihan.”</p>

<p>Sekejap mengabai ketakutannya, Takemichi tanpa sadar mengulas senyum, ia senang mengetahui bahwa Mikey pernah mencicipi asmara.</p>

<p>Draken menegakkan tubuhnya, kedua tangan berpangku diatas lutut, ia berbalik menatap takemichi. Sorotnya sayu, seperti awan kelabu.</p>

<p>“Namun itu tidak berlangsung lama, kisahnya berakhir tragis.”</p>

<p>Barangkali Takemichi  sudah menduga hal itu,  yang menjadi pertanyaan adalah skenario macam apa yang mengakhiri kisah Mikey bersama cinta pertamanya.</p>

<p>“Gadis itu dijadikan persembahan agar Mikey kembali ke kegelapan.”</p>

<p>“Aku tidak mengerti maksudnya,” Takemichi membuka mulut.</p>

<p>“Lagi dan lagi Mikey harus merasa kehilangan. Gadisnya dipaksa bertemu kematian, orang orang sialan itu merenggut nyawanya.” Draken menggeram, tangannya dikepal, rahang mengeras mengingat masa lalu.</p>

<p>Bukankah kisaki sudah tiada?  lalu siapa lagi yang ingin Mikey terus berada dijalan kenakalan.</p>

<p>“Sejak kematiannya Mikey mulai merasa jika dirinya merupakan kesialan, dia mulai menjaga jarak, aku pikir bahwa Mikey tak ingin lagi melihat orang orang terdekatnya berjatuhan. Alhasil keinginan orang-orang itu terwujud, Mikey menjadi sosok yang mengerikan.”</p>

<p>Takemichi hanya bisa terdiam, banyak kontradiksi yang bermunculan diotaknya.</p>

<p>“Jika kau penasaran siapa orang yang sangat ingin Mikey terus berada dikegelapan maka jawabnya adalah Sanzu Haruchiyo.”</p>

<hr/>

<p>Takemichi ingin, sangat ingin mengubah masa lalu, mencegah kematian yang belum terjadi. Tapi terdapat satu hambatan yang tak dapat ia tepiskan. Perjalanan waktu yang dilakukan olehnya hanya bisa kembali ke dua belas tahun yang lalu, sedangkan pertemuan Mikey dengan pelipur lara-nya terjadi sepuluh tahun yang lalu saat Mikey masih duduk dikelas dua sekolah menengah atas.</p>

<p>Bagaimana caranya mengubah sesuatu yang bahkan masih sangat jauh dari waktu terjadinya?</p>

<p>Satu satunya cara yang terpikir oleh Takemichi adalah meniadakan pertemuan yang berakhir tragedi. Semua tidak akan terjadi jika Mikey tak pernah dipertemukan dengan cinta pertamanya namun itu juga berarti kisah filantropi Mikey bersama kekasihnya tak akan pernah ada di catatan hidup.</p>

<p>Sangat disayangkan, tapi apa boleh buat? Daripada kematian dan keputus-asaan yang mengambil alih, lebih baik jika ditiadakan.</p>

<p>Takemichi kembali ke masa lalu berbekal sebuah nama. Nama sekolah dan nama gadis itu, gadis yang dijadikan persembahan untuk kembalinya Mikey ke jalan yang menyimpang.</p>

<p>Hanya perlu mencegah Mikey bersekolah ditempat yang dulu seharusnya sudah cukup.</p>

<p>Ditahun ini penggunaan internet masih sangat minim Takemichi kesulitan untuk mencari identitas perempuan itu. Tidak ada alasan khusus, ia hanya penasaran orang macam apa yang sukses menarik hati Mikey.</p>

<p>“Bagaimana jika takdirmu dirubah tanpa sepengetahuanmu?”</p>

<p>Takemichi merasa seperti tertangkap basah sedang melakukan tindak kejahatan. Tubuhnya menegang, netranya menatap jalanan raya dengan tajam.</p>

<p>“Tiba-tiba saja aku berpikir demikian dan terkadang yang aku pikirkan sering terjadi.”</p>

<p>Toleh ke kanan dan berjumpalah sang perombak takdir dengan gadis rupawan yang tidak dikenali olehnya.</p>

<p>“Maaf berbicara tidak jelas, hanya saja suasananya sangat sepi, hanya kita berdua disini.”</p>

<p>Cengiran yang terakhir dilihat sebelum Takemichi mengedarkan pandangannya ke sekitar halte bus.
Benar, hanya mereka berdua yang ada ditempat tersebut.</p>

<p>“Bisa saja itu terjadi.” Takemichi tak mau memandang gadis disebelahnya. Mengingat kembali bahwa ia merupakan seorang pengubah takdir jadi perkataan gadis itu tidak bisa dianggap lelucon.</p>

<p>“Kau dan aku sama-sama aneh.” Kekehan terdengar oleh rungu. “Takdir sudah ditetapkan bagaimana bisa dirubah.”</p>

<p>Takemichi tersenyum miring mendengarnya.</p>

<p>Dunia seolah berhenti berotasi, telinga berdenging kuat. Pelafalan nama membuat Takemichi mematung dalam waktu yang cukup lama. Bus yang ditunggu pun sudah berangkat, pergi bersama gadis yang beberapa saat lalu berbincang bersamanya.</p>

<p>“Firasat yang mengerikan,” desisnya.</p>

<hr/>

<p>Terhapus, narasi percintaan yang mulanya tersemat dibuku takdir kini hilang tergantikan. Hari Demi hari yang dilalui penuh afeksi telah sirna, lebih tepatnya tidak pernah ada.</p>

<p>Selisih jalan bagai asing, tiada sapaan hangat, mereka hidup dalam dunianya sendiri. Terdetak untuk bertatap namun hanya sekilas kembali berpaling.</p>

<p>Kisah Mikey dan cinta pertamanya hilang bagai kabut diburu sinar matahari.</p>

<p>Masa depan berubah menjadi lebih baik. Takemichi berhasil.</p>

<p>Berhasil memotong ikatan yang bahkan belum terikat.</p>

<p>Memang sebaiknya mereka tidak pernah bertemu.</p>

<p><strong>FIN.</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kosmonaut.writeas.com/erased-phy3</guid>
      <pubDate>Wed, 25 Aug 2021 03:30:34 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>erased</title>
      <link>https://kosmonaut.writeas.com/erased-7gl8?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#xA;erased&#xA;&#xA;  ⚠ Penulisan mungkin tidak sesuai PUEBI &#xA;&#xA;Yang belum terjadi maka tidak bisa di-rubah.&#xA;&#xA;Berulang kali terus gagal, masa depan dimana semua tokoh merasakan bahagia seolah mustahil diwujudkan.&#xA;Persembahan diberi untuk memanifestasi masa yang gemilang. Tidak ada yang cuma-cuma, merubah takdir mestinya harus dengan bayaran yang setimpal.&#xA;&#xA;Namun perjalanan hidup dan mati yang rumit bagai tak mengubah getir didalamnya. Luka itu seakan melekat di-sum-sum tulang. Bak noda permanen yang tak kunjung pudar.&#xA;&#xA;Ada yang salah. Takemichi menyadarinya setelah putaran tak terkira. Sang antagonis telah gugur, alasan terbesarnya melakukan lompatan waktu ke masa lalu pun sudah berjaya. Tapi kenapa hanya dia. Kenapa hanya Sano Manjirou yang tidak ada dikesenangan ini.&#xA;Jujur saja, Takemichi sempat berpikir bahwa jalan hidup yang dipilih oleh pemimpin toman itu tak payah lagi diganggu. &#xA;&#xA;Semua hidup, masa depan yang terbaik. Sampai akhirnya Takemichi sadar, hidup bukan berarti bahagia. &#xA;&#xA;&#34;Kematian Emma membuatnya benar- benar hancur.&#34;&#xA;&#xA;Takemichi menjatuhkan pandangannya, menatap ujung kaki dengan sendu. Ia tahu itu, bahkan dia yang kini berbicara pun tak kalah hancurnya.&#xA;&#xA;&#34;Tapi Mikey belum menjauh kala itu.&#34;&#xA;&#xA;Apa sebenarnya yang membuatnya menjauh? Takemichi berusaha untuk menemukan jawabnya namun nihil.&#xA;&#xA;&#34;Pada akhirnya ia bertemu seseorang yang bisa memudarkan luka dihatinya.&#34;&#xA;&#xA;Draken—pria yang sedari tadi berbicara tersenyum simpul. Sedangkan manusia lain yang berada di atelir mengangkat wajahnya, bertanya-tanya mengenai seseorang yang berhasil memudarkan luka di hati sang Mikey.&#xA;&#xA;&#34;Mereka bertemu saat tahun kedua sekolah menengah atas. Mikey mulai berubah, ia kembali seperti dirinya yang dulu sebelum kehilangan adiknya.&#34;&#xA;&#xA;Takemichi membelalak, ternyata ada momen seperti itu dimasa lalu. Wajar saja ia tidak tahu karena dua tahun sebelum kejadian itu ia sudah kembali ke masa depan. &#xA;&#xA;Siapa orang itu? Apakah menyimpangnya jalan hidup Mikey berhubungan dengan orang tersebut? Sekelebat pertanyaan mulai muncul di otak. &#xA;&#xA;&#34;Untuk pertama kali dalam hidupnya Mikey merasakan jatuh cinta, pemuda itu merasakan sesuatu yang berbeda dihatinya selain kepedihan.&#34;&#xA;&#xA;Sekejap melupakan ketakutannya, Takemichi tanpa sadar mengulas senyum, ia senang mengetahui bahwa Mikey pernah mencicipi asmara.&#xA;&#xA;Draken menegakkan tubuhnya, kedua tangan berpangku diatas lutut, ia berbalik menatap takemichi. Sorotnya layu.&#xA;&#xA;&#34;Namun itu tidak berlangsung lama, kisahnya berakhir tragis.&#34;&#xA;&#xA;Takemichi sudah menduganya yang menjadi pertanyaan adalah skenario macam apa yang mengakhiri kisah Mikey bersama cinta pertamanya.&#xA;&#xA;&#34;Gadis itu dijadikan persembahan agar Mikey kembali ke kegelapan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku tidak mengerti maksudnya,&#34; Takemichi membuka mulut.&#xA;&#xA;&#34;Lagi dan lagi Mikey harus merasa kehilangan. Gadisnya dipaksa bertemu kematian, orang orang sialan itu merenggut nyawanya.&#34; Draken menggeram, tangannya dikepal, rahangnya mengeras mengingat masa lalu. &#xA;&#xA;Bukankah kisaki sudah tidak ada, lalu siapa lagi yang ingin Mikey terus berada di jalan kenakalan. &#xA;&#xA;&#34;Sejak kematiannya Mikey mulai merasa jika dirinya merupakan kesialan, ia mulai menjaga jarak, aku berpikir bahwa Mikey tak ingin lagi melihat orang orang terdekatnya berjatuhan. Alhasil keinginan orang-orang itu terwujud, Mikey menjadi sosok yang mengerikan.&#34;&#xA;&#xA;Takemichi hanya bisa terdiam, banyak kontradiksi yang bermunculan diotaknya.&#xA;&#xA;&#34;Jika kau penasaran siapa orang yang sangat ingin Mikey terus berada dikegelapan maka jawabnya adalah Sanzu Haruchiyo.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Takemichi ingin, sangat ingin mengubah masa lalu, mencegah kematian yang belum terjadi. Tapi terdapat satu hambatan yang tak dapat ia tepiskan. Perjalanan waktu yang dilakukan olehnya hanya bisa kembali ke dua belas tahun yang lalu, sedangkan pertemuan Mikey dengan pelipur lara-nya terjadi sepuluh tahun yang lalu saat Mikey masih duduk dikelas dua sekolah menengah atas.&#xA;&#xA;Bagaimana caranya mengubah sesuatu yang bahkan masih sangat jauh dari waktu terjadinya?&#xA;&#xA;Satu satunya cara yang terpikir oleh Takemichi adalah meniadakan pertemuan yang berakhir tragedi. Semua tidak akan terjadi jika Mikey tak pernah dipertemukan dengan cinta pertamanya namun itu juga berarti kisah filantropi Mikey bersama kekasihnya tak akan pernah ada di catatan hidup.&#xA;&#xA;Sangat disayangkan, tapi apa boleh buat? Daripada kematian dan keputus-asaan yang mengambil alih, lebih baik jika ditiadakan.&#xA;&#xA;Takemichi kembali ke masa lalu berbekal sebuah nama. Nama sekolah dan nama gadis itu, gadis yang dijadikan persembahan untuk kembalinya Mikey ke jalan yang menyimpang.&#xA;&#xA;Hanya perlu mencegah Mikey bersekolah ditempat yang dulu seharusnya sudah cukup. &#xA;&#xA;Ditahun ini penggunaan internet masih sangat minim Takemichi kesulitan untuk mencari identitas perempuan itu. Ia hanya penasaran orang macam apa yang menarik hati Mikey.&#xA;&#xA;&#34;Bagaimana jika takdirmu dirubah tanpa sepengetahuanmu?&#34; &#xA;&#xA;Takemichi merasa seperti tertangkap basah sedang melakukan tindak kejahatan. Tubuhnya menegang, netranya menatap jalanan raya dengan tajam.&#xA;&#xA;&#34;Tiba-tiba saja aku berpikir demikian, dan terkadang yang aku pikirkan sering terjadi.&#34;&#xA;&#xA;Toleh ke kanan dan berjumpalah sang pengubah takdir dengan gadis rupawan yang tidak dikenal olehnya.&#xA;&#xA;&#34;Maaf berbicara tidak jelas, hanya saja suasananya sangat sepi, hanya kita berdua.&#34;&#xA;&#xA;Cengiran yang terakhir dilihat sebelum Takemichi mengedarkan pandangannya ke sekitar halte bus.&#xA;Benar, hanya mereka berdua yang ada ditempat tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Bisa saja itu terjadi.&#34; Takemichi tak mau memandang gadis disebelahnya. Mengingat kembali bahwa ia merupakan seorang pengubah takdir jadi perkataan gadis itu tidak bisa dianggap lelucon.&#xA;&#xA;&#34;Kau dan aku sama-sama aneh.&#34; Kekehan terdengar oleh rungu. &#34;Takdir sudah ditetapkan bagaimana bisa dirubah.&#34;&#xA;&#xA;Takemichi tersenyum miring mendengarnya.&#xA;&#xA;Dunia seolah berhenti berotasi, telinga berdenging kuat. Pelafalan nama membuat Takemichi mematung dalam waktu yang cukup lama. Bus yang ditunggu pun sudah berlalu, pergi bersama gadis yang beberapa saat yang lalu berbincang bersamanya.&#xA;&#xA;&#34;Firasat yang mengerikan,&#34; desisnya.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Terhapus, tergantikan, narasi percintaan yang mulanya tersemat dibuku takdir kini hilang. Hari Demi hari yang dilalui penuh afeksi telah sirna, lebih tepatnya tidak pernah ada.&#xA;&#xA;Selisih jalan bagai asing, tiada sapaan hangat, mereka hidup dalam dunianya sendiri. Terdetak untuk bertatap namun hanya sekilas kembali berpaling.&#xA;&#xA;Kisah Mikey dan cinta pertamanya hilang bagai kabut diburu sinar matahari.&#xA;&#xA;Masa depan berubah menjadi lebih baik. Takemichi berhasil.&#xA;&#xA;Berhasil memotong ikatan yang bahkan belum terikat.&#xA;&#xA;Memang sebaiknya mereka tidak pernah bertemu. &#xA;&#xA;FIN.&#xA;&#xA;Maaf kalo saya ada salah tentang time leap Takemichi 🙏.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>erased</strong></p>

<blockquote><p>⚠ Penulisan mungkin tidak sesuai PUEBI</p></blockquote>

<p>Yang belum terjadi maka tidak bisa di-rubah.</p>

<p>Berulang kali terus gagal, masa depan dimana semua tokoh merasakan bahagia seolah mustahil diwujudkan.
Persembahan diberi untuk memanifestasi masa yang gemilang. Tidak ada yang cuma-cuma, merubah takdir mestinya harus dengan bayaran yang setimpal.</p>

<p>Namun perjalanan hidup dan mati yang rumit bagai tak mengubah getir didalamnya. Luka itu seakan melekat di-sum-sum tulang. Bak noda permanen yang tak kunjung pudar.</p>

<p>Ada yang salah. Takemichi menyadarinya setelah putaran tak terkira. Sang antagonis telah gugur, alasan terbesarnya melakukan lompatan waktu ke masa lalu pun sudah berjaya. Tapi kenapa hanya <em>dia</em>. Kenapa hanya Sano Manjirou yang tidak ada dikesenangan ini.
Jujur saja, Takemichi sempat berpikir bahwa jalan hidup yang dipilih oleh pemimpin toman itu tak payah lagi diganggu.</p>

<p>Semua hidup, masa depan yang terbaik. Sampai akhirnya Takemichi sadar, hidup bukan berarti bahagia.</p>

<p>“Kematian Emma membuatnya benar- benar hancur.”</p>

<p>Takemichi menjatuhkan pandangannya, menatap ujung kaki dengan sendu. Ia tahu itu, bahkan dia yang kini berbicara pun tak kalah hancurnya.</p>

<p>“Tapi Mikey belum menjauh kala itu.”</p>

<p>Apa sebenarnya yang membuatnya menjauh? Takemichi berusaha untuk menemukan jawabnya namun nihil.</p>

<p>“Pada akhirnya ia bertemu seseorang yang bisa memudarkan luka dihatinya.”</p>

<p>Draken—pria yang sedari tadi berbicara tersenyum simpul. Sedangkan manusia lain yang berada di atelir mengangkat wajahnya, bertanya-tanya mengenai seseorang yang berhasil memudarkan luka di hati sang Mikey.</p>

<p>“Mereka bertemu saat tahun kedua sekolah menengah atas. Mikey mulai berubah, ia kembali seperti dirinya yang dulu sebelum kehilangan adiknya.”</p>

<p>Takemichi membelalak, ternyata ada momen seperti itu dimasa lalu. Wajar saja ia tidak tahu karena dua tahun sebelum kejadian itu ia sudah kembali ke masa depan.</p>

<p>Siapa orang itu? Apakah menyimpangnya jalan hidup Mikey berhubungan dengan orang tersebut? Sekelebat pertanyaan mulai muncul di otak.</p>

<p>“Untuk pertama kali dalam hidupnya Mikey merasakan jatuh cinta, pemuda itu merasakan sesuatu yang berbeda dihatinya selain kepedihan.”</p>

<p>Sekejap melupakan ketakutannya, Takemichi tanpa sadar mengulas senyum, ia senang mengetahui bahwa Mikey pernah mencicipi asmara.</p>

<p>Draken menegakkan tubuhnya, kedua tangan berpangku diatas lutut, ia berbalik menatap takemichi. Sorotnya layu.</p>

<p>“Namun itu tidak berlangsung lama, kisahnya berakhir tragis.”</p>

<p>Takemichi sudah menduganya yang menjadi pertanyaan adalah skenario macam apa yang mengakhiri kisah Mikey bersama cinta pertamanya.</p>

<p>“Gadis itu dijadikan persembahan agar Mikey kembali ke kegelapan.”</p>

<p>“Aku tidak mengerti maksudnya,” Takemichi membuka mulut.</p>

<p>“Lagi dan lagi Mikey harus merasa kehilangan. Gadisnya dipaksa bertemu kematian, orang orang sialan itu merenggut nyawanya.” Draken menggeram, tangannya dikepal, rahangnya mengeras mengingat masa lalu.</p>

<p>Bukankah kisaki sudah tidak ada, lalu siapa lagi yang ingin Mikey terus berada di jalan kenakalan.</p>

<p>“Sejak kematiannya Mikey mulai merasa jika dirinya merupakan kesialan, ia mulai menjaga jarak, aku berpikir bahwa Mikey tak ingin lagi melihat orang orang terdekatnya berjatuhan. Alhasil keinginan orang-orang itu terwujud, Mikey menjadi sosok yang mengerikan.”</p>

<p>Takemichi hanya bisa terdiam, banyak kontradiksi yang bermunculan diotaknya.</p>

<p>“Jika kau penasaran siapa orang yang sangat ingin Mikey terus berada dikegelapan maka jawabnya adalah Sanzu Haruchiyo.”</p>

<hr/>

<p>Takemichi ingin, sangat ingin mengubah masa lalu, mencegah kematian yang belum terjadi. Tapi terdapat satu hambatan yang tak dapat ia tepiskan. Perjalanan waktu yang dilakukan olehnya hanya bisa kembali ke dua belas tahun yang lalu, sedangkan pertemuan Mikey dengan pelipur lara-nya terjadi sepuluh tahun yang lalu saat Mikey masih duduk dikelas dua sekolah menengah atas.</p>

<p>Bagaimana caranya mengubah sesuatu yang bahkan masih sangat jauh dari waktu terjadinya?</p>

<p>Satu satunya cara yang terpikir oleh Takemichi adalah meniadakan pertemuan yang berakhir tragedi. Semua tidak akan terjadi jika Mikey tak pernah dipertemukan dengan cinta pertamanya namun itu juga berarti kisah filantropi Mikey bersama kekasihnya tak akan pernah ada di catatan hidup.</p>

<p>Sangat disayangkan, tapi apa boleh buat? Daripada kematian dan keputus-asaan yang mengambil alih, lebih baik jika ditiadakan.</p>

<p>Takemichi kembali ke masa lalu berbekal sebuah nama. Nama sekolah dan nama gadis itu, gadis yang dijadikan persembahan untuk kembalinya Mikey ke jalan yang menyimpang.</p>

<p>Hanya perlu mencegah Mikey bersekolah ditempat yang dulu seharusnya sudah cukup.</p>

<p>Ditahun ini penggunaan internet masih sangat minim Takemichi kesulitan untuk mencari identitas perempuan itu. Ia hanya penasaran orang macam apa yang menarik hati Mikey.</p>

<p>“Bagaimana jika takdirmu dirubah tanpa sepengetahuanmu?”</p>

<p>Takemichi merasa seperti tertangkap basah sedang melakukan tindak kejahatan. Tubuhnya menegang, netranya menatap jalanan raya dengan tajam.</p>

<p>“Tiba-tiba saja aku berpikir demikian, dan terkadang yang aku pikirkan sering terjadi.”</p>

<p>Toleh ke kanan dan berjumpalah sang pengubah takdir dengan gadis rupawan yang tidak dikenal olehnya.</p>

<p>“Maaf berbicara tidak jelas, hanya saja suasananya sangat sepi, hanya kita berdua.”</p>

<p>Cengiran yang terakhir dilihat sebelum Takemichi mengedarkan pandangannya ke sekitar halte bus.
Benar, hanya mereka berdua yang ada ditempat tersebut.</p>

<p>“Bisa saja itu terjadi.” Takemichi tak mau memandang gadis disebelahnya. Mengingat kembali bahwa ia merupakan seorang pengubah takdir jadi perkataan gadis itu tidak bisa dianggap lelucon.</p>

<p>“Kau dan aku sama-sama aneh.” Kekehan terdengar oleh rungu. “Takdir sudah ditetapkan bagaimana bisa dirubah.”</p>

<p>Takemichi tersenyum miring mendengarnya.</p>

<p>Dunia seolah berhenti berotasi, telinga berdenging kuat. Pelafalan nama membuat Takemichi mematung dalam waktu yang cukup lama. Bus yang ditunggu pun sudah berlalu, pergi bersama gadis yang beberapa saat yang lalu berbincang bersamanya.</p>

<p>“Firasat yang mengerikan,” desisnya.</p>

<hr/>

<p>Terhapus, tergantikan, narasi percintaan yang mulanya tersemat dibuku takdir kini hilang. Hari Demi hari yang dilalui penuh afeksi telah sirna, lebih tepatnya tidak pernah ada.</p>

<p>Selisih jalan bagai asing, tiada sapaan hangat, mereka hidup dalam dunianya sendiri. Terdetak untuk bertatap namun hanya sekilas kembali berpaling.</p>

<p>Kisah Mikey dan cinta pertamanya hilang bagai kabut diburu sinar matahari.</p>

<p>Masa depan berubah menjadi lebih baik. Takemichi berhasil.</p>

<p>Berhasil memotong ikatan yang bahkan belum terikat.</p>

<p>Memang sebaiknya mereka tidak pernah bertemu.</p>

<p><strong>FIN.</strong></p>

<p><em>Maaf kalo saya ada salah tentang time leap Takemichi 🙏.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kosmonaut.writeas.com/erased-7gl8</guid>
      <pubDate>Tue, 24 Aug 2021 09:55:59 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>erased</title>
      <link>https://kosmonaut.writeas.com/erased?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#xA;erased&#xA;&#xA;  ⚠ Penulisan mungkin tidak sesuai PUEBI &#xA;&#xA;Yang belum terjadi maka tidak bisa di-rubah.&#xA;&#xA;Berulang kali terus gagal, masa depan dimana semua tokoh merasakan bahagia seolah mustahil diwujudkan.&#xA;Persembahan diberi untuk memanifestasi masa yang gemilang. Tidak ada yang cuma-cuma, merubah takdir mestinya harus dengan bayaran yang setimpal.&#xA;&#xA;Namun perjalanan hidup dan mati yang rumit bagai tak mengubah getir didalamnya. Luka itu seakan melekat di-sum-sum tulang. Bak noda permanen yang tak kunjung pudar.&#xA;&#xA;Ada yang salah. Takemichi menyadarinya setelah putaran tak terkira. Sang antagonis telah gugur, alasan terbesarnya melakukan lompatan waktu ke masa lalu pun sudah berjaya. Tapi kenapa hanya dia. Kenapa hanya Sano Manjirou yang tidak ada dikesenangan ini.&#xA;Jujur saja, Takemichi sempat berpikir bahwa jalan hidup yang dipilih oleh pemimpin toman itu tak payah lagi diganggu. &#xA;&#xA;Semua hidup, masa depan yang terbaik. Sampai akhirnya Takemichi sadar, hidup bukan berarti bahagia. &#xA;&#xA;&#34;Kematian Emma membuatnya benar- benar hancur.&#34;&#xA;&#xA;Takemichi menjatuhkan pandangannya, menatap ujung kaki dengan sendu. Ia tahu itu, bahkan dia yang kini berbicara pun tak kalah hancurnya.&#xA;&#xA;&#34;Tapi Mikey belum menjauh kala itu.&#34;&#xA;&#xA;Apa sebenarnya yang membuatnya menjauh? Takemichi berusaha untuk menemukan jawabnya namun nihil.&#xA;&#xA;&#34;Pada akhirnya ia bertemu seseorang yang bisa memudarkan luka dihatinya.&#34;&#xA;&#xA;Draken—pria yang sedari tadi berbicara tersenyum simpul. Sedangkan manusia lain yang berada di atelir mengangkat wajahnya, bertanya-tanya mengenai seseorang yang berhasil memudarkan luka di hati sang Mikey.&#xA;&#xA;&#34;Mereka bertemu saat tahun kedua sekolah menengah atas. Mikey mulai berubah, ia kembali seperti dirinya yang dulu sebelum kehilangan adiknya.&#34;&#xA;&#xA;Takemichi membelalak, ternyata ada momen seperti itu dimasa lalu. Wajar saja ia tidak tahu karena dua tahun sebelum kejadian itu ia sudah kembali ke masa depan. &#xA;&#xA;Siapa orang itu? Apakah menyimpangnya jalan hidup Mikey berhubungan dengan orang tersebut? Sekelebat pertanyaan mulai muncul di otak. &#xA;&#xA;&#34;Untuk pertama kali dalam hidupnya Mikey merasakan jatuh cinta, pemuda itu merasakan sesuatu yang berbeda dihatinya selain kepedihan.&#34;&#xA;&#xA;Sekejap melupakan ketakutannya, Takemichi tanpa sadar mengulas senyum, ia senang mengetahui bahwa Mikey pernah mencicipi asmara.&#xA;&#xA;Draken menegakkan tubuhnya, kedua tangan berpangku diatas lutut, ia berbalik menatap takemichi. Sorotnya layu.&#xA;&#xA;&#34;Namun itu tidak berlangsung lama, kisahnya berakhir tragis.&#34;&#xA;&#xA;Takemichi sudah menduganya yang menjadi pertanyaan adalah skenario macam apa yang mengakhiri kisah Mikey bersama cinta pertamanya.&#xA;&#xA;&#34;Gadis itu dijadikan persembahan agar Mikey kembali ke kegelapan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku tidak mengerti maksudnya,&#34; Takemichi membuka mulut.&#xA;&#xA;&#34;Lagi dan lagi Mikey harus merasa kehilangan. Gadisnya dipaksa bertemu kematian, orang orang sialan itu merenggut nyawanya.&#34; Draken menggeram, tangannya dikepal, rahangnya mengeras mengingat masa lalu. &#xA;&#xA;Bukankah kisaki sudah tidak ada, lalu siapa lagi yang ingin Mikey terus berada di jalan kenakalan. &#xA;&#xA;&#34;Sejak kematiannya Mikey mulai merasa jika dirinya merupakan kesialan, ia mulai menjaga jarak, aku berpikir bahwa Mikey tak ingin lagi melihat orang orang terdekatnya berjatuhan. Alhasil keinginan orang-orang itu terwujud, Mikey menjadi sosok yang mengerikan.&#34;&#xA;&#xA;Takemichi hanya bisa terdiam, banyak kontradiksi yang bermunculan diotaknya.&#xA;&#xA;&#34;Jika kau penasaran siapa orang yang sangat ingin Mikey terus berada dikegelapan maka jawabnya adalah Sanzu Haruchiyo.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Takemichi ingin, sangat ingin mengubah masa lalu, mencegah kematian yang belum terjadi. Tapi terdapat satu hambatan yang tak dapat ia tepiskan. Perjalanan waktu yang dilakukan olehnya hanya bisa kembali ke dua belas tahun yang lalu, sedangkan pertemuan Mikey dengan pelipur lara-nya terjadi sepuluh tahun yang lalu saat Mikey masih duduk dikelas dua sekolah menengah atas.&#xA;&#xA;Bagaimana caranya mengubah sesuatu yang bahkan masih sangat jauh dari waktu terjadinya?&#xA;&#xA;Satu satunya cara yang terpikir oleh Takemichi adalah meniadakan pertemuan yang berakhir tragedi. Semua tidak akan terjadi jika Mikey tak pernah dipertemukan dengan cinta pertamanya namun itu juga berarti kisah filantropi Mikey bersama kekasihnya tak akan pernah ada di catatan hidup.&#xA;&#xA;Sangat disayangkan, tapi apa boleh buat? Daripada kematian dan keputus-asaan yang mengambil alih, lebih baik jika ditiadakan.&#xA;&#xA;Takemichi kembali ke masa lalu berbekal sebuah nama. Nama sekolah dan nama gadis itu, gadis yang dijadikan persembahan untuk kembalinya Mikey ke jalan yang menyimpang.&#xA;&#xA;Hanya perlu mencegah Mikey bersekolah ditempat yang dulu seharusnya sudah cukup. &#xA;&#xA;Ditahun ini penggunaan internet masih sangat minim Takemichi kesulitan untuk mencari identitas perempuan itu. Ia hanya penasaran orang macam apa yang menarik hati Mikey.&#xA;&#xA;&#34;Bagaimana jika takdirmu dirubah tanpa sepengetahuanmu?&#34; &#xA;&#xA;Takemichi merasa seperti tertangkap basah sedang melakukan tindak kejahatan. Tubuhnya menegang, netranya menatap jalanan raya dengan tajam.&#xA;&#xA;&#34;Tiba-tiba saja aku berpikir demikian, dan terkadang yang aku pikirkan sering terjadi.&#34;&#xA;&#xA;Toleh ke kanan dan berjumpalah sang pengubah takdir dengan gadis rupawan yang tidak dikenal olehnya.&#xA;&#xA;&#34;Maaf berbicara tidak jelas, hanya saja suasananya sangat sepi, hanya kita berdua.&#34;&#xA;&#xA;Cengiran yang terakhir dilihat sebelum Takemichi mengedarkan pandangannya ke sekitar halte bus.&#xA;Benar, hanya mereka berdua yang ada ditempat tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Bisa saja itu terjadi.&#34; Takemichi tak mau memandang gadis disebelahnya. Mengingat kembali bahwa ia merupakan seorang pengubah takdir jadi perkataan gadis itu tidak bisa dianggap lelucon.&#xA;&#xA;&#34;Kau dan aku sama-sama aneh.&#34; Kekehan terdengar oleh rungu. &#34;Takdir sudah ditetapkan bagaimana bisa dirubah.&#34;&#xA;&#xA;Takemichi tersenyum miring mendengarnya.&#xA;&#xA;Dunia seolah berhenti berotasi, telinga berdenging kuat. Pelafalan nama membuat Takemichi mematung dalam waktu yang cukup lama. Bus yang ditunggu pun sudah berlalu, pergi bersama gadis yang beberapa saat yang lalu berbincang bersamanya.&#xA;&#xA;&#34;Firasat yang mengerikan,&#34; desisnya.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Terhapus, tergantikan, narasi percintaan yang mulanya tersemat dibuku takdir kini hilang. Hari Demi hari yang dilalui penuh afeksi telah sirna, lebih tepatnya tidak pernah ada.&#xA;&#xA;Selisih jalan bagai asing, tiada sapaan hangat, mereka hidup dalam dunianya sendiri. Terdetak untuk bertatap namun hanya sekilas kembali berpaling.&#xA;&#xA;Kisah Mikey dan cinta pertamanya hilang bagai kabut diburu sinar matahari.&#xA;&#xA;Masa depan berubah menjadi lebih baik. Takemichi berhasil.&#xA;&#xA;Berhasil memotong ikatan yang bahkan belum terikat.&#xA;&#xA;Memang sebaiknya mereka tidak pernah bertemu. &#xA;&#xA;FIN&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>erased</strong></p>

<blockquote><p>⚠ Penulisan mungkin tidak sesuai PUEBI</p></blockquote>

<p>Yang belum terjadi maka tidak bisa di-rubah.</p>

<p>Berulang kali terus gagal, masa depan dimana semua tokoh merasakan bahagia seolah mustahil diwujudkan.
Persembahan diberi untuk memanifestasi masa yang gemilang. Tidak ada yang cuma-cuma, merubah takdir mestinya harus dengan bayaran yang setimpal.</p>

<p>Namun perjalanan hidup dan mati yang rumit bagai tak mengubah getir didalamnya. Luka itu seakan melekat di-sum-sum tulang. Bak noda permanen yang tak kunjung pudar.</p>

<p>Ada yang salah. Takemichi menyadarinya setelah putaran tak terkira. Sang antagonis telah gugur, alasan terbesarnya melakukan lompatan waktu ke masa lalu pun sudah berjaya. Tapi kenapa hanya <em>dia</em>. Kenapa hanya Sano Manjirou yang tidak ada dikesenangan ini.
Jujur saja, Takemichi sempat berpikir bahwa jalan hidup yang dipilih oleh pemimpin toman itu tak payah lagi diganggu.</p>

<p>Semua hidup, masa depan yang terbaik. Sampai akhirnya Takemichi sadar, hidup bukan berarti bahagia.</p>

<p>“Kematian Emma membuatnya benar- benar hancur.”</p>

<p>Takemichi menjatuhkan pandangannya, menatap ujung kaki dengan sendu. Ia tahu itu, bahkan dia yang kini berbicara pun tak kalah hancurnya.</p>

<p>“Tapi Mikey belum menjauh kala itu.”</p>

<p>Apa sebenarnya yang membuatnya menjauh? Takemichi berusaha untuk menemukan jawabnya namun nihil.</p>

<p>“Pada akhirnya ia bertemu seseorang yang bisa memudarkan luka dihatinya.”</p>

<p>Draken—pria yang sedari tadi berbicara tersenyum simpul. Sedangkan manusia lain yang berada di atelir mengangkat wajahnya, bertanya-tanya mengenai seseorang yang berhasil memudarkan luka di hati sang Mikey.</p>

<p>“Mereka bertemu saat tahun kedua sekolah menengah atas. Mikey mulai berubah, ia kembali seperti dirinya yang dulu sebelum kehilangan adiknya.”</p>

<p>Takemichi membelalak, ternyata ada momen seperti itu dimasa lalu. Wajar saja ia tidak tahu karena dua tahun sebelum kejadian itu ia sudah kembali ke masa depan.</p>

<p>Siapa orang itu? Apakah menyimpangnya jalan hidup Mikey berhubungan dengan orang tersebut? Sekelebat pertanyaan mulai muncul di otak.</p>

<p>“Untuk pertama kali dalam hidupnya Mikey merasakan jatuh cinta, pemuda itu merasakan sesuatu yang berbeda dihatinya selain kepedihan.”</p>

<p>Sekejap melupakan ketakutannya, Takemichi tanpa sadar mengulas senyum, ia senang mengetahui bahwa Mikey pernah mencicipi asmara.</p>

<p>Draken menegakkan tubuhnya, kedua tangan berpangku diatas lutut, ia berbalik menatap takemichi. Sorotnya layu.</p>

<p>“Namun itu tidak berlangsung lama, kisahnya berakhir tragis.”</p>

<p>Takemichi sudah menduganya yang menjadi pertanyaan adalah skenario macam apa yang mengakhiri kisah Mikey bersama cinta pertamanya.</p>

<p>“Gadis itu dijadikan persembahan agar Mikey kembali ke kegelapan.”</p>

<p>“Aku tidak mengerti maksudnya,” Takemichi membuka mulut.</p>

<p>“Lagi dan lagi Mikey harus merasa kehilangan. Gadisnya dipaksa bertemu kematian, orang orang sialan itu merenggut nyawanya.” Draken menggeram, tangannya dikepal, rahangnya mengeras mengingat masa lalu.</p>

<p>Bukankah kisaki sudah tidak ada, lalu siapa lagi yang ingin Mikey terus berada di jalan kenakalan.</p>

<p>“Sejak kematiannya Mikey mulai merasa jika dirinya merupakan kesialan, ia mulai menjaga jarak, aku berpikir bahwa Mikey tak ingin lagi melihat orang orang terdekatnya berjatuhan. Alhasil keinginan orang-orang itu terwujud, Mikey menjadi sosok yang mengerikan.”</p>

<p>Takemichi hanya bisa terdiam, banyak kontradiksi yang bermunculan diotaknya.</p>

<p>“Jika kau penasaran siapa orang yang sangat ingin Mikey terus berada dikegelapan maka jawabnya adalah Sanzu Haruchiyo.”</p>

<hr/>

<p>Takemichi ingin, sangat ingin mengubah masa lalu, mencegah kematian yang belum terjadi. Tapi terdapat satu hambatan yang tak dapat ia tepiskan. Perjalanan waktu yang dilakukan olehnya hanya bisa kembali ke dua belas tahun yang lalu, sedangkan pertemuan Mikey dengan pelipur lara-nya terjadi sepuluh tahun yang lalu saat Mikey masih duduk dikelas dua sekolah menengah atas.</p>

<p>Bagaimana caranya mengubah sesuatu yang bahkan masih sangat jauh dari waktu terjadinya?</p>

<p>Satu satunya cara yang terpikir oleh Takemichi adalah meniadakan pertemuan yang berakhir tragedi. Semua tidak akan terjadi jika Mikey tak pernah dipertemukan dengan cinta pertamanya namun itu juga berarti kisah filantropi Mikey bersama kekasihnya tak akan pernah ada di catatan hidup.</p>

<p>Sangat disayangkan, tapi apa boleh buat? Daripada kematian dan keputus-asaan yang mengambil alih, lebih baik jika ditiadakan.</p>

<p>Takemichi kembali ke masa lalu berbekal sebuah nama. Nama sekolah dan nama gadis itu, gadis yang dijadikan persembahan untuk kembalinya Mikey ke jalan yang menyimpang.</p>

<p>Hanya perlu mencegah Mikey bersekolah ditempat yang dulu seharusnya sudah cukup.</p>

<p>Ditahun ini penggunaan internet masih sangat minim Takemichi kesulitan untuk mencari identitas perempuan itu. Ia hanya penasaran orang macam apa yang menarik hati Mikey.</p>

<p>“Bagaimana jika takdirmu dirubah tanpa sepengetahuanmu?”</p>

<p>Takemichi merasa seperti tertangkap basah sedang melakukan tindak kejahatan. Tubuhnya menegang, netranya menatap jalanan raya dengan tajam.</p>

<p>“Tiba-tiba saja aku berpikir demikian, dan terkadang yang aku pikirkan sering terjadi.”</p>

<p>Toleh ke kanan dan berjumpalah sang pengubah takdir dengan gadis rupawan yang tidak dikenal olehnya.</p>

<p>“Maaf berbicara tidak jelas, hanya saja suasananya sangat sepi, hanya kita berdua.”</p>

<p>Cengiran yang terakhir dilihat sebelum Takemichi mengedarkan pandangannya ke sekitar halte bus.
Benar, hanya mereka berdua yang ada ditempat tersebut.</p>

<p>“Bisa saja itu terjadi.” Takemichi tak mau memandang gadis disebelahnya. Mengingat kembali bahwa ia merupakan seorang pengubah takdir jadi perkataan gadis itu tidak bisa dianggap lelucon.</p>

<p>“Kau dan aku sama-sama aneh.” Kekehan terdengar oleh rungu. “Takdir sudah ditetapkan bagaimana bisa dirubah.”</p>

<p>Takemichi tersenyum miring mendengarnya.</p>

<p>Dunia seolah berhenti berotasi, telinga berdenging kuat. Pelafalan nama membuat Takemichi mematung dalam waktu yang cukup lama. Bus yang ditunggu pun sudah berlalu, pergi bersama gadis yang beberapa saat yang lalu berbincang bersamanya.</p>

<p>“Firasat yang mengerikan,” desisnya.</p>

<hr/>

<p>Terhapus, tergantikan, narasi percintaan yang mulanya tersemat dibuku takdir kini hilang. Hari Demi hari yang dilalui penuh afeksi telah sirna, lebih tepatnya tidak pernah ada.</p>

<p>Selisih jalan bagai asing, tiada sapaan hangat, mereka hidup dalam dunianya sendiri. Terdetak untuk bertatap namun hanya sekilas kembali berpaling.</p>

<p>Kisah Mikey dan cinta pertamanya hilang bagai kabut diburu sinar matahari.</p>

<p>Masa depan berubah menjadi lebih baik. Takemichi berhasil.</p>

<p>Berhasil memotong ikatan yang bahkan belum terikat.</p>

<p>Memang sebaiknya mereka tidak pernah bertemu.</p>

<p><strong>FIN</strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kosmonaut.writeas.com/erased</guid>
      <pubDate>Tue, 24 Aug 2021 09:52:06 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>ordinary</title>
      <link>https://kosmonaut.writeas.com/ordinary?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[ordinary&#xA;&#xA;Kisah biasa dari pelakon biasa. Bukan tentang primadona yang bertemu dengan pria kuat nan lembut, layaknya Hades dan Persephone. Bukan pula tentang pria dingin bersama gadis ceria yang baik hati.&#xA;&#xA;Ini cerita sederhana, mengenai dua insan berjiwa yang hidup dalam dunia penuh warna. Kisah tak bernilai yang hanya tersemat berdua. Dianggap angin lalu sebab tidak ada hal yang menarik atensi. &#xA;&#xA;Jika berada didalam komik maka peran yang disandang adalah sebagai figuran tak bernama. &#xA;&#xA;Seishu Inui. Pria berusia tujuh belas tahun yang masih menduduki bangku sekolah menengah atas ditingkat kedua. Jauh dari kata most wanted, dia hanya pemuda yang memiliki kehidupan normal. Kapasitas otak rata-rata, tidak baik pun tidak nakal, wajahnya rupawan namun jarang terlihat.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>ordinary</strong></p>

<p>Kisah biasa dari pelakon biasa. Bukan tentang primadona yang bertemu dengan pria kuat nan lembut, layaknya Hades dan Persephone. Bukan pula tentang pria dingin bersama gadis ceria yang baik hati.</p>

<p>Ini cerita sederhana, mengenai dua insan berjiwa yang hidup dalam dunia penuh warna. Kisah tak bernilai yang hanya tersemat berdua. Dianggap angin lalu sebab tidak ada hal yang menarik atensi.</p>

<p>Jika berada didalam komik maka peran yang disandang adalah sebagai figuran tak bernama.</p>

<p>Seishu Inui. Pria berusia tujuh belas tahun yang masih menduduki bangku sekolah menengah atas ditingkat kedua. Jauh dari kata <em>most wanted</em>, dia hanya pemuda yang memiliki kehidupan normal. Kapasitas otak rata-rata, tidak baik pun tidak nakal, wajahnya rupawan namun jarang terlihat.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kosmonaut.writeas.com/ordinary</guid>
      <pubDate>Sun, 22 Aug 2021 15:55:56 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>pulang sekolah</title>
      <link>https://kosmonaut.writeas.com/pulang-sekolah?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[pulang sekolah&#xA;&#xA;  ⚠ garing &amp; cringe &#xA;&#xA;Aku berjalan lunglai menuju gerbang sekolah. Arloji murah dipergelangan tangan aku lihat sejenak, sudah pukul setengah tiga sore. Mataku menyipit, mulut menganga lebar serta tanganku berusaha untuk menutupi.&#xA;&#xA;Detik kemudian, bukan lagi sebab menguap tapi karena terkejut. Mulutku tetap terbuka lebar namun mataku kini ikut serta membelalak saat melihat pria menyebalkan yang memiliki hobi mangkir tengah duduk di sepeda motornya.&#xA;&#xA;Kurva tak bisa kutekan, senyum bahagia timbul seketika. Langkah kupercepat  bahkan setengah berlari.&#xA;&#xA;&#34;Katanya tadi mau cabuuut,&#34; ucapku menggoda.&#xA;&#xA;Rindou, pria itu menoleh dengan tatapan tajamnya. Setajam silet, nada bicara feni rose presenter program tv bertajuk silet terngiang ditelingaku.&#xA;&#xA;&#34;Lama,&#34; sungutnya.&#xA;&#xA;&#34;Mana gue tau lo nungguin.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yaudah buruan naik sini.&#34;&#xA;&#xA;Rindou menyalakan mesin motor, bersiap untuk berkendara. Satu menit ia diam menatap lurus kedepan sebelum akhirnya beralih ke arahku. &#xA;&#xA;&#34;Apa lagi, hm?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Helmnya mana?&#34; tanganku mengudara, telapak keatas meminta pelindung kepala.&#xA;Rindou menatap pintaan lalu selanjutnya kembali menilik wajahku. &#xA;&#xA;&#34;Ga romantis, masa cewenya ga dikasih helm, malah make sendiri,&#34; gerutuku. &#xA;&#xA;&#34;Ck&#34; Rindou mendecak, melepas helmnya. &#34;Emang lo cewe gue?&#34; ujarnya seraya memberi benda bulat kepadaku.&#xA;&#xA;&#34;Bukanlah,&#34; sanggahku sembari mendekat, memposisikan kedua tangan disamping mulut dan sedikit menyatu dengan telinga Rindou, &#34;Bukan cewe, tapi istri,&#34; bisikku.&#xA;&#xA;&#34;Sinting,&#34; balasnya.&#xA;&#xA;Aku tergelak. Samar kulihat wajahnya merah, antara tersipu atau kepanasan.&#xA;&#xA;Dengan Kecepatan standard Rindou melajukan kendaraannya. Soal tujuan, sudah pasti ia tau dimana letak rumahku, bukan sekali dua kali Rindou mengunjugi kediamanku.&#xA;&#xA;&#34;Rin, lo kenapa jarang masuk?&#34; tanyaku iseng, aslinya sudah tahu bahwa  pria ini dirumah bilangnya berangkat sekolah tapi nyampenya jarang, seringan belok main-main sama temennya.&#xA;&#xA;&#34;Ngurusin bisnis keluarga,&#34; jawab Rindou.&#xA;&#xA;&#34;Iyadeh anak konglomerat.&#34;&#xA;&#xA;Rindou tak masuk sekolah bukanlah hal yang besar bagi keluarganya pun bagi dirinya sendiri toh, masa depan sudah terjamin. Tapi tetap saja jika orang tuanya tahu kelakuan Rindou, hukuman besar mungkin akan menimpanya.&#xA;&#xA;&#34;Masa lo sekolah pas kangen sama gue doang.&#34; Aku menyeletuk percaya diri.&#xA;&#xA;Anehnya Rindou malah tertawa. &#34;Kalo gue sekolah pas kangen sama lu doang, absen gue bakal bersih.&#34;&#xA;&#xA; &#34;Ha?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Karena gue kangennya setiap hari,&#34; lanjutnya. &#xA;&#xA;Ya Tuhan sejak kapan Rindou jago banget ngalusnya. Aku tanpa sadar memukul kepalanya. &#34;Dilarang gombal.&#34;&#xA;&#xA;Tega banget bikin jantung anak orang empot-empotan.&#xA;&#xA;&#34;Lo yang mulai, giliran dibalas malah kesel.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Cuma gue yang boleh gombal, pihak Rindou Haitani dilarang keras.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, terserah istri aja.&#34;&#xA;&#xA;Epic comeback&#xA;&#xA;Dinding pipi bagian dalam terapit diantara gigiku demi meminimalisir rasa bergejolak didada. &#xA;&#xA;&#34;Curang.&#34; &#xA;&#xA;Setengah jam di perjalanan. Saling menyerang dengan rayuan manis yang sukses mengundang kupu-kupu dalam perut. &#xA;&#xA;Status menjadi enigma tak berkesudahan.&#xA;&#xA;&#34;Ga mau mampir dulu?&#34; tawarku. Dua tungkai telah bertapak pada tanah, rumah sudah didepan mata. &#xA;&#xA;&#34;Ga dulu, nanti aja pas lamaran,&#34; jawab Rindou.&#xA;&#xA;&#34;Udahan ngapa, malah ketagihan ngegombal anak ini.&#34;&#xA;&#xA;Rin tergelak, tangannya bekerja membuka helm yang terpasang dikepalaku.&#xA;&#xA;&#34;Sori sori, masuk sana panas nih,&#34; serunya.&#xA;&#xA;&#34;Yaudah, hati hati dijalan rin rin, besok sekolah ya!&#34; &#xA;&#xA;Walaupun tahu persenan Rindou pergi sekolah tak lebih dari dua puluh persen, tapi gapapa, gak ada salahnya nyoba nyuruh dia sekolah.&#xA;&#xA;&#34;Masuk dulu ya,&#34; pamitku.&#xA;&#xA;Baru selangkah sudah ditahan, tas punggungku ditarik kebelakang hingga kembali ke posisi semula.&#xA;&#xA;&#34;Duh kenapa lagi, udah kaya di drakor aja.&#34; &#xA;&#xA;Rindou beranjak dari motornya semakin dekat, berhenti di sebelah wajahku.&#xA;&#xA;&#34;Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya,&#34; bisiknya. &#xA;&#xA;&#34;Rin?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Itu lirik lagu dewa sembilan belas yang kangen, kan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ngapaiiin? Apa maksudnya bisikin itu.&#34; Aku meringis menahan malu, padahal Rindou yang berbuat tapi kenapa aku yang merasa malu. &#xA;&#xA;&#34;Biar romantislah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah udahlah jenaka banget lo, pulang sana urusin bisnis keluarga.&#34;&#xA;&#xA;Rindou nurut, kembali ia menaiki sepeda motor dan menyalakannya.&#xA;&#xA;&#34;Semua kata rindumu semakin~&#34;&#xA;&#xA;&#34;Diem.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Lo bayangin, lagu bukannya dinyanyiin malah dijadiin puisi. Gue sih capek 😭&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>pulang sekolah</strong></p>

<blockquote><p>⚠ garing &amp; cringe</p></blockquote>

<p>Aku berjalan lunglai menuju gerbang sekolah. Arloji murah dipergelangan tangan aku lihat sejenak, sudah pukul setengah tiga sore. Mataku menyipit, mulut menganga lebar serta tanganku berusaha untuk menutupi.</p>

<p>Detik kemudian, bukan lagi sebab menguap tapi karena terkejut. Mulutku tetap terbuka lebar namun mataku kini ikut serta membelalak saat melihat pria menyebalkan yang memiliki hobi mangkir tengah duduk di sepeda motornya.</p>

<p>Kurva tak bisa kutekan, senyum bahagia timbul seketika. Langkah kupercepat  bahkan setengah berlari.</p>

<p>“Katanya tadi mau cabuuut,” ucapku menggoda.</p>

<p>Rindou, pria itu menoleh dengan tatapan tajamnya. Setajam silet, nada bicara feni rose presenter program tv bertajuk <em>silet</em> terngiang ditelingaku.</p>

<p>“Lama,” sungutnya.</p>

<p>“Mana gue tau lo nungguin.”</p>

<p>“Yaudah buruan naik sini.”</p>

<p>Rindou menyalakan mesin motor, bersiap untuk berkendara. Satu menit ia diam menatap lurus kedepan sebelum akhirnya beralih ke arahku.</p>

<p>“Apa lagi, hm?”</p>

<p>“Helmnya mana?” tanganku mengudara, telapak keatas meminta pelindung kepala.
Rindou menatap pintaan lalu selanjutnya kembali menilik wajahku.</p>

<p>“Ga romantis, masa cewenya ga dikasih helm, malah make sendiri,” gerutuku.</p>

<p>“Ck” Rindou mendecak, melepas helmnya. “Emang lo cewe gue?” ujarnya seraya memberi benda bulat kepadaku.</p>

<p>“Bukanlah,” sanggahku sembari mendekat, memposisikan kedua tangan disamping mulut dan sedikit menyatu dengan telinga Rindou, “Bukan cewe, tapi istri,” bisikku.</p>

<p>“Sinting,” balasnya.</p>

<p>Aku tergelak. Samar kulihat wajahnya merah, antara tersipu atau kepanasan.</p>

<p>Dengan Kecepatan standard Rindou melajukan kendaraannya. Soal tujuan, sudah pasti ia tau dimana letak rumahku, bukan sekali dua kali Rindou mengunjugi kediamanku.</p>

<p>“Rin, lo kenapa jarang masuk?” tanyaku iseng, aslinya sudah tahu bahwa  pria ini dirumah bilangnya berangkat sekolah tapi nyampenya jarang, seringan belok main-main sama temennya.</p>

<p>“Ngurusin bisnis keluarga,” jawab Rindou.</p>

<p>“Iyadeh anak konglomerat.”</p>

<p>Rindou tak masuk sekolah bukanlah hal yang besar bagi keluarganya pun bagi dirinya sendiri toh, masa depan sudah terjamin. Tapi tetap saja jika orang tuanya tahu kelakuan Rindou, hukuman besar mungkin akan menimpanya.</p>

<p>“Masa lo sekolah pas kangen sama gue doang.” Aku menyeletuk percaya diri.</p>

<p>Anehnya Rindou malah tertawa. “Kalo gue sekolah pas kangen sama lu doang, absen gue bakal bersih.”</p>

<p> “Ha?”</p>

<p>“Karena gue kangennya setiap hari,” lanjutnya.</p>

<p>Ya Tuhan sejak kapan Rindou jago banget ngalusnya. Aku tanpa sadar memukul kepalanya. “Dilarang gombal.”</p>

<p>Tega banget bikin jantung anak orang empot-empotan.</p>

<p>“Lo yang mulai, giliran dibalas malah kesel.”</p>

<p>“Cuma gue yang boleh gombal, pihak Rindou Haitani dilarang keras.”</p>

<p>“Iya, terserah istri aja.”</p>

<p><em>Epic comeback</em></p>

<p>Dinding pipi bagian dalam terapit diantara gigiku demi meminimalisir rasa bergejolak didada.</p>

<p>“Curang.”</p>

<p>Setengah jam di perjalanan. Saling menyerang dengan rayuan manis yang sukses mengundang kupu-kupu dalam perut.</p>

<p><em>Status menjadi enigma tak berkesudahan.</em></p>

<p>“Ga mau mampir dulu?” tawarku. Dua tungkai telah bertapak pada tanah, rumah sudah didepan mata.</p>

<p>“Ga dulu, nanti aja pas lamaran,” jawab Rindou.</p>

<p>“Udahan ngapa, malah ketagihan ngegombal anak ini.”</p>

<p>Rin tergelak, tangannya bekerja membuka helm yang terpasang dikepalaku.</p>

<p>“Sori sori, masuk sana panas nih,” serunya.</p>

<p>“Yaudah, hati hati dijalan rin rin, besok sekolah ya!”</p>

<p>Walaupun tahu persenan Rindou pergi sekolah tak lebih dari dua puluh persen, tapi gapapa, gak ada salahnya nyoba nyuruh dia sekolah.</p>

<p>“Masuk dulu ya,” pamitku.</p>

<p>Baru selangkah sudah ditahan, tas punggungku ditarik kebelakang hingga kembali ke posisi semula.</p>

<p>“Duh kenapa lagi, udah kaya di drakor aja.”</p>

<p>Rindou beranjak dari motornya semakin dekat, berhenti di sebelah wajahku.</p>

<p>“Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya,” bisiknya.</p>

<p>“Rin?”</p>

<p>“Iya?”</p>

<p>“Itu lirik lagu dewa sembilan belas yang kangen, kan?”</p>

<p>“Iya, kenapa?”</p>

<p>“Ngapaiiin? Apa maksudnya bisikin itu.” Aku meringis menahan malu, padahal Rindou yang berbuat tapi kenapa aku yang merasa malu.</p>

<p>“Biar romantislah.”</p>

<p>“Ah udahlah jenaka banget lo, pulang sana urusin bisnis keluarga.”</p>

<p>Rindou nurut, kembali ia menaiki sepeda motor dan menyalakannya.</p>

<p>“Semua kata rindumu semakin~”</p>

<p>“Diem.”</p>

<hr/>

<p>Lo bayangin, lagu bukannya dinyanyiin malah dijadiin puisi. Gue sih capek 😭</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kosmonaut.writeas.com/pulang-sekolah</guid>
      <pubDate>Thu, 19 Aug 2021 13:02:33 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>GIRAFFE</title>
      <link>https://kosmonaut.writeas.com/giraffe-6cg3?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[GIRAFFE&#xA;&#xA;&#34;Hanma.&#34;&#xA;&#xA;Tanganku mengudara, berayun kekanan dan kekiri. Senyuman manis sengaja aku ulas, diberikan pada pria jangkung diujung jalan. Kedua tungkai-ku bergerak cepat mendekatinya.&#xA;&#xA;Ekspresi kaget yang kentara tergambar diwajah Hanma, buru-buru ia berlari kearah diriku dan langsung mengajak memutar arah.&#xA;&#xA;&#34;Kan udah dibilang, aku aja yang nyamperin kamu,&#34; ujarnya. Tangan Hanma membalikkan tubuhku, dirangkulnya seraya menjauh dari tempat tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Biar kamu ga capek, eh itu kenapa rame? Ada live busking ya?&#34;&#xA;Kepalaku memutar sembilan puluh derajat, berusaha untuk melihat keramaian dibelakang. Namun dengan cepat dialihkan oleh Hanma. &#xA;&#xA;&#34;Gaada, emang lagi rame aja.&#34;&#xA;&#xA;Aku mengangguk percaya.&#xA;&#xA;Tangan Hanma turun dari pundakku. Berjalan beriringan menyusuri jalanan ramai. Jika bersebelahan dengannya sering kali orang beranggapan bahwa kami adalah sepasang kakak beradik, melihat dari selisih tinggi badan, aku tidak bisa menyangkal, aku pun bila jadi orang lain akan berpikir demikian.&#xA;&#xA;Hanma sangat tinggi, seperti jerapah. Aku terkekeh, gambaran jerapah dengan wajah Hanma seketika terlintas diotak.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;Aku mendongak, masih dengan tawa menjawab pertanyaannya. &#34;Tiba-tiba kepikiran kamu kalo jadi jerapah, lucu.&#34; Aku menggenggam tangan Hanma dan merapati tubuhnya.&#xA;&#xA;&#34;Eh?&#34;&#xA;&#xA;Hanma melepas genggaman, ia menjauh. Senyumku perlahan memudar, Jelas saja aku khawatir. Apa aku melakukan hal yang salah? Sebelumnya tak pernah begini, apa Hanma tidak suka dibayangkan mirip jerapah? &#xA;&#xA;&#34;Aku cuci tangan dulu,&#34; ucapnya tegas. &#xA;&#xA;Ah, mengejutkan saja. &#xA;&#xA;&#34;Kotor,&#34; lanjutnya sembari menunjukkan telapak tangannya padaku. &#xA;&#xA;Hanma, aku penasaran, apakah matamu memiliki fitur seperti mikroskop sehingga bisa melihat kuman  dan bakteri yang ukurannya tak terlihat oleh mata? Karena indera penglihatanku tidak bisa melihat kekotoran disana. &#xA;&#xA;&#34;Ga kotor kok, tapi kalo mau cuci tangan, ya cuci aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bentar ya, kamu tunggu disini aja.&#34; &#xA;&#xA;Hawa dingin mencekam membuat bulu kuduk meremang. Suasana yang mulanya tenang mendadak menjadi suram. Benar-benar aura yang luar biasa. Aku menoleh kearah sumber keberadaan yang mencekam.&#xA;&#xA;Hanma? &#xA;&#xA;Gelap seolah memancar darinya, rautnya tenang namun tersirat amarah.&#xA;&#xA;&#34;Han, udah balik ya. Kenapa? Kok keliatan muram?&#34;&#xA;&#xA;Oh, dia tersenyum. &#34;Gapapa,&#34; ucapnya. &#34;Kamu ngapain sama mereka?&#34; Hanma melirik dua pria yang sedari tadi bersama denganku.&#xA;&#xA;&#34;Oh iya, mereka katanya lagi nyariin kamu.&#34;&#xA;&#xA;Punggung Hanma menjadi titik pusat perhatianku. Bersama dua pria lainnya, mereka berbincang tak jauh dari posisiku berdiri.&#xA;&#xA;Apa yang sebenarnya dibicarakan oleh pemuda pemuda itu. Satu hal yang terlintas diotakku adalah tentang perkelahian. &#xA;&#xA;Aku tahu Hanma masih saja suka diam-diam berkelahi. Dia pun tahu aku tidak suka melihatnya beradu pukul makanya memilih bergerak dalam senyap tanpa sepengetahuanku.&#xA;&#xA;&#34;Lagi mikirin apa?&#34;&#xA;&#xA;Aku melonjak kaget mendengar suara Hanma yang berbisik ditelinga. Rupanya ia sudah selesai, aku tidak menyadarinya.&#xA;&#xA;&#34;Mikirin jerapah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mikirin aku?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Pede banget.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bukannya aku jerapah ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu Hanma.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, Hanma yang mirip jerapah, kan?&#34;&#xA;&#xA;OMAKE&#xA;&#xA;Hanma Pov &#xA;&#xA;&#34;Tanganku bau rokok.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Osanai? Ngapain?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mukanya serius banget, curiga ga ya?&#34;&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>GIRAFFE</strong></p>

<p>“Hanma.”</p>

<p>Tanganku mengudara, berayun kekanan dan kekiri. Senyuman manis sengaja aku ulas, diberikan pada pria jangkung diujung jalan. Kedua tungkai-ku bergerak cepat mendekatinya.</p>

<p>Ekspresi kaget yang kentara tergambar diwajah Hanma, buru-buru ia berlari kearah diriku dan langsung mengajak memutar arah.</p>

<p>“Kan udah dibilang, aku aja yang nyamperin kamu,” ujarnya. Tangan Hanma membalikkan tubuhku, dirangkulnya seraya menjauh dari tempat tersebut.</p>

<p>“Biar kamu ga capek, eh itu kenapa rame? Ada <em>live busking</em> ya?”
Kepalaku memutar sembilan puluh derajat, berusaha untuk melihat keramaian dibelakang. Namun dengan cepat dialihkan oleh Hanma.</p>

<p>“Gaada, emang lagi rame aja.”</p>

<p>Aku mengangguk percaya.</p>

<p>Tangan Hanma turun dari pundakku. Berjalan beriringan menyusuri jalanan ramai. Jika bersebelahan dengannya sering kali orang beranggapan bahwa kami adalah sepasang kakak beradik, melihat dari selisih tinggi badan, aku tidak bisa menyangkal, aku pun bila jadi orang lain akan berpikir demikian.</p>

<p>Hanma sangat tinggi, seperti jerapah. Aku terkekeh, gambaran jerapah dengan wajah Hanma seketika terlintas diotak.</p>

<p>“Kenapa?”</p>

<p>Aku mendongak, masih dengan tawa menjawab pertanyaannya. “Tiba-tiba kepikiran kamu kalo jadi jerapah, lucu.” Aku menggenggam tangan Hanma dan merapati tubuhnya.</p>

<p>“Eh?”</p>

<p>Hanma melepas genggaman, ia menjauh. Senyumku perlahan memudar, Jelas saja aku khawatir. Apa aku melakukan hal yang salah? Sebelumnya tak pernah begini, apa Hanma tidak suka dibayangkan mirip jerapah?</p>

<p>“Aku cuci tangan dulu,” ucapnya tegas.</p>

<p>Ah, mengejutkan saja.</p>

<p>“Kotor,” lanjutnya sembari menunjukkan telapak tangannya padaku.</p>

<p>Hanma, aku penasaran, apakah matamu memiliki fitur seperti mikroskop sehingga bisa melihat kuman  dan bakteri yang ukurannya tak terlihat oleh mata? Karena indera penglihatanku tidak bisa melihat kekotoran disana.</p>

<p>“Ga kotor kok, tapi kalo mau cuci tangan, ya cuci aja.”</p>

<p>“Bentar ya, kamu tunggu disini aja.”</p>

<p>Hawa dingin mencekam membuat bulu kuduk meremang. Suasana yang mulanya tenang mendadak menjadi suram. Benar-benar aura yang luar biasa. Aku menoleh kearah sumber keberadaan yang mencekam.</p>

<p>Hanma?</p>

<p>Gelap seolah memancar darinya, rautnya tenang namun tersirat amarah.</p>

<p>“Han, udah balik ya. Kenapa? Kok keliatan muram?”</p>

<p>Oh, dia tersenyum. “Gapapa,” ucapnya. “Kamu ngapain sama mereka?” Hanma melirik dua pria yang sedari tadi bersama denganku.</p>

<p>“Oh iya, mereka katanya lagi nyariin kamu.”</p>

<p>Punggung Hanma menjadi titik pusat perhatianku. Bersama dua pria lainnya, mereka berbincang tak jauh dari posisiku berdiri.</p>

<p>Apa yang sebenarnya dibicarakan oleh pemuda pemuda itu. Satu hal yang terlintas diotakku adalah tentang perkelahian.</p>

<p>Aku tahu Hanma masih saja suka diam-diam berkelahi. Dia pun tahu aku tidak suka melihatnya beradu pukul makanya memilih bergerak dalam senyap tanpa sepengetahuanku.</p>

<p>“Lagi mikirin apa?”</p>

<p>Aku melonjak kaget mendengar suara Hanma yang berbisik ditelinga. Rupanya ia sudah selesai, aku tidak menyadarinya.</p>

<p>“Mikirin jerapah.”</p>

<p>“Mikirin aku?”</p>

<p>“Pede banget.”</p>

<p>“Bukannya aku jerapah ya?”</p>

<p>“Kamu Hanma.”</p>

<p>“Iya, Hanma yang mirip jerapah, kan?”</p>

<p><strong>OMAKE</strong></p>

<p>Hanma Pov</p>

<p><em>“Tanganku bau rokok.”</em></p>

<p><em>“Osanai? Ngapain?”</em></p>

<p><em>“Mukanya serius banget, curiga ga ya?”</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kosmonaut.writeas.com/giraffe-6cg3</guid>
      <pubDate>Sun, 15 Aug 2021 01:06:33 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>GIRAFFE</title>
      <link>https://kosmonaut.writeas.com/giraffe-mr6f?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[GIRAFFE&#xA;&#xA;&#34;Hanma.&#34;&#xA;&#xA;Tanganku mengudara, berayun kekanan dan kekiri. Senyuman manis sengaja aku ulas, diberikan pada pria jangkung diujung jalan. Kedua tungkai-ku bergerak cepat mendekatinya.&#xA;&#xA;Ekspresi kaget yang kentara tergambar diwajah Hanma, buru-buru ia berlari kearah diriku dan langsung mengajak memutar arah.&#xA;&#xA;&#34;Kan udah dibilang, aku aja yang nyamperin kamu,&#34; ujarnya. Tangan Hanma membalikkan tubuhku, dirangkulnya seraya menjauh dari tempat tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Biar kamu ga capek, eh itu kenapa rame? Ada live busking ya?&#34;&#xA;Kepalaku memutar sembilan puluh derajat, berusaha untuk melihat keramaian dibelakang. Namun dengan cepat dialihkan oleh Hanma. &#xA;&#xA;&#34;Gaada, emang lagi rame aja.&#34;&#xA;&#xA;Aku mengangguk percaya.&#xA;&#xA;Tangan Hanma turun dari pundakku. Berjalan beriringan menyusuri jalanan ramai. Jika bersebelahan dengannya sering kali orang beranggapan bahwa kami adalah sepasang kakak beradik, melihat dari selisih tinggi badan, aku tidak bisa menyangkal, aku pun bila jadi orang lain akan berpikir demikian.&#xA;&#xA;Hanma sangat tinggi, seperti jerapah. Aku terkekeh, gambaran jerapah dengan wajah Hanma seketika terlintas diotak.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;Aku mendongak, masih dengan tawa menjawab pertanyaannya. &#34;Tiba-tiba kepikiran kamu kalo jadi jerapah, lucu.&#34; Aku menggenggam tangan Hanma dan merapati tubuhnya.&#xA;&#xA;&#34;Eh?&#34;&#xA;&#xA;Hanma melepas genggaman, ia menjauh. Senyumku perlahan memudar, Jelas saja aku khawatir. Apa aku melakukan hal yang salah? Sebelumnya tak pernah begini, apa Hanma tidak suka dibayangkan mirip jerapah? &#xA;&#xA;&#34;Aku cuci tangan dulu,&#34; ucapnya tegas. &#xA;&#xA;Ah, mengejutkan saja. &#xA;&#xA;&#34;Kotor,&#34; lanjutnya sembari menunjukkan telapak tangannya padaku. &#xA;&#xA;Hanma, aku penasaran, apakah matamu memiliki fitur seperti mikroskop sehingga bisa melihat kuman  dan bakteri yang ukurannya tak terlihat oleh mata? Karena indera penglihatanku tidak bisa melihat kekotoran disana. &#xA;&#xA;&#34;Ga kotor kok, tapi kalo mau cuci tangan, ya cuci aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bentar ya, kamu tunggu disini aja.&#34; &#xA;&#xA;Hawa dingin mencekam membuat bulu kuduk meremang. Suasana yang mulanya tenang mendadak menjadi suram. Benar-benar aura yang luar biasa. Aku menoleh kearah sumber keberadaan yang mencekam.&#xA;&#xA;Hanma? &#xA;&#xA;Gelap seolah memancar darinya, rautnya tenang namun tersirat amarah.&#xA;&#xA;&#34;Han, udah balik ya. Kenapa? Kok keliatan muram?&#34;&#xA;&#xA;Oh, dia tersenyum. &#34;Gapapa,&#34; ucapnya. &#34;Kamu ngapain sama mereka?&#34; Hanma melirik dua pria yang sedari tadi bersama denganku.&#xA;&#xA;&#34;Oh iya, mereka katanya lagi nyariin kamu.&#34;&#xA;&#xA;Punggung Hanma menjadi titik pusat perhatianku. Bersama dua pria lainnya, mereka berbincang tak jauh dari posisiku berdiri.&#xA;&#xA;Apa yang sebenarnya dibicarakan oleh pemuda pemuda itu. Satu hal yang terlintas diotakku adalah tentang perkelahian. &#xA;&#xA;Aku tahu Hanma masih saja suka diam-diam berkelahi. Dia pun tahu aku tidak suka melihatnya beradu pukul makanya memilih bergerak dalam senyap tanpa sepengetahuanku.&#xA;&#xA;&#34;Lagi mikirin apa?&#34;&#xA;&#xA;Aku melonjak kaget mendengar suara Hanma yang berisik ditelinga. Rupanya ia sudah selesai, aku tidak menyadarinya.&#xA;&#xA;&#34;Mikirin jerapah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mikirin aku?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Pede banget.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bukannya aku jerapah ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu Hanma.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, Hanma yang mirip jerapah, kan?&#34;&#xA;&#xA;OMAKE&#xA;&#xA;Hanma Pov &#xA;&#xA;&#34;Tanganku bau rokok.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Osanai? Ngapain?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mukanya serius banget, curiga ga ya?&#34;&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>GIRAFFE</strong></p>

<p>“Hanma.”</p>

<p>Tanganku mengudara, berayun kekanan dan kekiri. Senyuman manis sengaja aku ulas, diberikan pada pria jangkung diujung jalan. Kedua tungkai-ku bergerak cepat mendekatinya.</p>

<p>Ekspresi kaget yang kentara tergambar diwajah Hanma, buru-buru ia berlari kearah diriku dan langsung mengajak memutar arah.</p>

<p>“Kan udah dibilang, aku aja yang nyamperin kamu,” ujarnya. Tangan Hanma membalikkan tubuhku, dirangkulnya seraya menjauh dari tempat tersebut.</p>

<p>“Biar kamu ga capek, eh itu kenapa rame? Ada <em>live busking</em> ya?”
Kepalaku memutar sembilan puluh derajat, berusaha untuk melihat keramaian dibelakang. Namun dengan cepat dialihkan oleh Hanma.</p>

<p>“Gaada, emang lagi rame aja.”</p>

<p>Aku mengangguk percaya.</p>

<p>Tangan Hanma turun dari pundakku. Berjalan beriringan menyusuri jalanan ramai. Jika bersebelahan dengannya sering kali orang beranggapan bahwa kami adalah sepasang kakak beradik, melihat dari selisih tinggi badan, aku tidak bisa menyangkal, aku pun bila jadi orang lain akan berpikir demikian.</p>

<p>Hanma sangat tinggi, seperti jerapah. Aku terkekeh, gambaran jerapah dengan wajah Hanma seketika terlintas diotak.</p>

<p>“Kenapa?”</p>

<p>Aku mendongak, masih dengan tawa menjawab pertanyaannya. “Tiba-tiba kepikiran kamu kalo jadi jerapah, lucu.” Aku menggenggam tangan Hanma dan merapati tubuhnya.</p>

<p>“Eh?”</p>

<p>Hanma melepas genggaman, ia menjauh. Senyumku perlahan memudar, Jelas saja aku khawatir. Apa aku melakukan hal yang salah? Sebelumnya tak pernah begini, apa Hanma tidak suka dibayangkan mirip jerapah?</p>

<p>“Aku cuci tangan dulu,” ucapnya tegas.</p>

<p>Ah, mengejutkan saja.</p>

<p>“Kotor,” lanjutnya sembari menunjukkan telapak tangannya padaku.</p>

<p>Hanma, aku penasaran, apakah matamu memiliki fitur seperti mikroskop sehingga bisa melihat kuman  dan bakteri yang ukurannya tak terlihat oleh mata? Karena indera penglihatanku tidak bisa melihat kekotoran disana.</p>

<p>“Ga kotor kok, tapi kalo mau cuci tangan, ya cuci aja.”</p>

<p>“Bentar ya, kamu tunggu disini aja.”</p>

<p>Hawa dingin mencekam membuat bulu kuduk meremang. Suasana yang mulanya tenang mendadak menjadi suram. Benar-benar aura yang luar biasa. Aku menoleh kearah sumber keberadaan yang mencekam.</p>

<p>Hanma?</p>

<p>Gelap seolah memancar darinya, rautnya tenang namun tersirat amarah.</p>

<p>“Han, udah balik ya. Kenapa? Kok keliatan muram?”</p>

<p>Oh, dia tersenyum. “Gapapa,” ucapnya. “Kamu ngapain sama mereka?” Hanma melirik dua pria yang sedari tadi bersama denganku.</p>

<p>“Oh iya, mereka katanya lagi nyariin kamu.”</p>

<p>Punggung Hanma menjadi titik pusat perhatianku. Bersama dua pria lainnya, mereka berbincang tak jauh dari posisiku berdiri.</p>

<p>Apa yang sebenarnya dibicarakan oleh pemuda pemuda itu. Satu hal yang terlintas diotakku adalah tentang perkelahian.</p>

<p>Aku tahu Hanma masih saja suka diam-diam berkelahi. Dia pun tahu aku tidak suka melihatnya beradu pukul makanya memilih bergerak dalam senyap tanpa sepengetahuanku.</p>

<p>“Lagi mikirin apa?”</p>

<p>Aku melonjak kaget mendengar suara Hanma yang berisik ditelinga. Rupanya ia sudah selesai, aku tidak menyadarinya.</p>

<p>“Mikirin jerapah.”</p>

<p>“Mikirin aku?”</p>

<p>“Pede banget.”</p>

<p>“Bukannya aku jerapah ya?”</p>

<p>“Kamu Hanma.”</p>

<p>“Iya, Hanma yang mirip jerapah, kan?”</p>

<p><strong>OMAKE</strong></p>

<p>Hanma Pov</p>

<p><em>“Tanganku bau rokok.”</em></p>

<p><em>“Osanai? Ngapain?”</em></p>

<p><em>“Mukanya serius banget, curiga ga ya?”</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kosmonaut.writeas.com/giraffe-mr6f</guid>
      <pubDate>Sat, 14 Aug 2021 16:17:54 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>GIRAFFE</title>
      <link>https://kosmonaut.writeas.com/giraffe-fm6b?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[GIRAFFE&#xA;&#xA;&#34;Hanma.&#34;&#xA;&#xA;Tanganku mengudara, berayun kekanan dan kekiri. Senyuman manis sengaja aku ulas, diberikan pada pria jangkung diujung jalan. Kedua tungkai-ku bergerak cepat mendekatinya.&#xA;&#xA;Ekspresi kaget yang kentara tergambar diwajah Hanma, buru-buru ia berlari kearah diriku dan langsung mengajak memutar arah.&#xA;&#xA;&#34;Kan udah dibilang, aku aja yang nyamperin kamu,&#34; ujarnya. Tangan Hanma membalikkan tubuhku, dirangkulnya seraya menjauh dari tempat tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Biar kamu ga capek, eh itu kenapa rame? Ada live busking ya?&#34;&#xA;Kepalaku memutar sembilan puluh derajat, berusaha untuk melihat keramaian dibelakang. Namun dengan cepat dialihkan oleh Hanma. &#xA;&#xA;&#34;Gaada, emang lagi rame aja.&#34;&#xA;&#xA;Aku mengangguk percaya.&#xA;&#xA;Tangan Hanma turun dari pundakku. Berjalan beriringan menyusuri jalanan ramai. Jika bersebelahan dengannya sering kali orang beranggapan bahwa kami adalah sepasang kakak beradik, melihat dari selisih tinggi badan, aku tidak bisa menyangkal, aku pun bila jadi orang lain akan berpikir demikian.&#xA;&#xA;Hanma sangat tinggi, seperti jerapah. Aku terkekeh, gambaran jerapah dengan wajah Hanma seketika terlintas diotak.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;Aku mendongak, masih dengan tawa menjawab pertanyaannya. &#34;Tiba-tiba kepikiran kamu kalo jadi jerapah, lucu.&#34; Aku menggenggam tangan Hanma dan merapati tubuhnya.&#xA;&#xA;&#34;Eh?&#34;&#xA;&#xA;Hanma melepas genggaman, ia menjauh. Senyumku perlahan memudar, Jelas saja aku khawatir. Apa aku melakukan hal yang salah? Sebelumnya tak pernah begini, apa Hanma tidak suka dibayangkan mirip jerapah? &#xA;&#xA;&#34;Aku cuci tangan dulu,&#34; ucapnya tegas. &#xA;&#xA;Ah, mengejutkan saja. &#xA;&#xA;&#34;Kotor,&#34; lanjutnya sembari menunjukkan telapak tangannya padaku. &#xA;&#xA;Hanma, aku penasaran, apakah matamu memiliki fitur seperti mikroskop sehingga bisa melihat kuman  dan bakteri yang ukurannya tak terlihat oleh mata? Karena indera penglihatanku tidak bisa melihat kekotoran disana. &#xA;&#xA;&#34;Ga kotor kok, tapi kalo mau cuci tangan, ya cuci aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bentar ya, kamu tunggu disini aja.&#34; &#xA;&#xA;Hawa dingin mencekam membuat bulu kuduk meremang. Suasana yang mulanya tenang mendadak menjadi suram. Benar-benar aura yang luar biasa. Aku menoleh kearah sumber keberadaan yang mencekam.&#xA;&#xA;Hanma? &#xA;&#xA;Gelap seolah memancar darinya, rautnya tenang namun tersirat amarah.&#xA;&#xA;&#34;Han, udah balik ya. Kenapa? Kok keliatan muram?&#34;&#xA;&#xA;Oh, dia tersenyum. &#34;Gapapa,&#34; ucapnya. &#34;Kamu ngapain sama mereka?&#34; Hanma melirik dua pria yang sedari tadi bersama denganku.&#xA;&#xA;&#34;Oh iya, mereka katanya lagi nyariin kamu.&#34;&#xA;&#xA;Punggung Hanma menjadi titik pusat perhatianku. Bersama dua pria lainnya, mereka berbincang tak jauh dari posisiku berdiri.&#xA;&#xA;Apa yang sebenarnya dibicarakan oleh pemuda pemuda itu. Satu hal yang terlintas diotakku adalah tentang perkelahian. &#xA;&#xA;Aku tahu Hanma masih saja suka diam-diam berkelahi. Dia pun tahu aku tidak suka melihatnya beradu pukul makanya memilih bergerak dalam senyap tanpa sepengetahuanku.&#xA;&#xA;&#34;Lagi mikirin apa?&#34;&#xA;&#xA;Aku melonjak kaget mendengar suara Hanma yang berisik ditelinga. Rupanya ia sudah selesai, aku tidak menyadarinya.&#xA;&#xA;&#34;Mikirin jerapah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mikirin aku?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Pede banget.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bukannya aku jerapah ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu Hanma.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, Hanma yang mirip jerapah, kan?&#34;&#xA;&#xA;OMAKE&#xA;&#xA;Hanma Pov &#xA;&#xA;&#34;Tanganku bau rokok.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Osanai? Ngapain?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mukanya serius banget, curiga ga ya?&#34;&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>GIRAFFE</strong></p>

<p>“Hanma.”</p>

<p>Tanganku mengudara, berayun kekanan dan kekiri. Senyuman manis sengaja aku ulas, diberikan pada pria jangkung diujung jalan. Kedua tungkai-ku bergerak cepat mendekatinya.</p>

<p>Ekspresi kaget yang kentara tergambar diwajah Hanma, buru-buru ia berlari kearah diriku dan langsung mengajak memutar arah.</p>

<p>“Kan udah dibilang, aku aja yang nyamperin kamu,” ujarnya. Tangan Hanma membalikkan tubuhku, dirangkulnya seraya menjauh dari tempat tersebut.</p>

<p>“Biar kamu ga capek, eh itu kenapa rame? Ada <em>live busking</em> ya?”
Kepalaku memutar sembilan puluh derajat, berusaha untuk melihat keramaian dibelakang. Namun dengan cepat dialihkan oleh Hanma.</p>

<p>“Gaada, emang lagi rame aja.”</p>

<p>Aku mengangguk percaya.</p>

<p>Tangan Hanma turun dari pundakku. Berjalan beriringan menyusuri jalanan ramai. Jika bersebelahan dengannya sering kali orang beranggapan bahwa kami adalah sepasang kakak beradik, melihat dari selisih tinggi badan, aku tidak bisa menyangkal, aku pun bila jadi orang lain akan berpikir demikian.</p>

<p>Hanma sangat tinggi, seperti jerapah. Aku terkekeh, gambaran jerapah dengan wajah Hanma seketika terlintas diotak.</p>

<p>“Kenapa?”</p>

<p>Aku mendongak, masih dengan tawa menjawab pertanyaannya. “Tiba-tiba kepikiran kamu kalo jadi jerapah, lucu.” Aku menggenggam tangan Hanma dan merapati tubuhnya.</p>

<p>“Eh?”</p>

<p>Hanma melepas genggaman, ia menjauh. Senyumku perlahan memudar, Jelas saja aku khawatir. Apa aku melakukan hal yang salah? Sebelumnya tak pernah begini, apa Hanma tidak suka dibayangkan mirip jerapah?</p>

<p>“Aku cuci tangan dulu,” ucapnya tegas.</p>

<p>Ah, mengejutkan saja.</p>

<p>“Kotor,” lanjutnya sembari menunjukkan telapak tangannya padaku.</p>

<p>Hanma, aku penasaran, apakah matamu memiliki fitur seperti mikroskop sehingga bisa melihat kuman  dan bakteri yang ukurannya tak terlihat oleh mata? Karena indera penglihatanku tidak bisa melihat kekotoran disana.</p>

<p>“Ga kotor kok, tapi kalo mau cuci tangan, ya cuci aja.”</p>

<p>“Bentar ya, kamu tunggu disini aja.”</p>

<p>Hawa dingin mencekam membuat bulu kuduk meremang. Suasana yang mulanya tenang mendadak menjadi suram. Benar-benar aura yang luar biasa. Aku menoleh kearah sumber keberadaan yang mencekam.</p>

<p>Hanma?</p>

<p>Gelap seolah memancar darinya, rautnya tenang namun tersirat amarah.</p>

<p>“Han, udah balik ya. Kenapa? Kok keliatan muram?”</p>

<p>Oh, dia tersenyum. “Gapapa,” ucapnya. “Kamu ngapain sama mereka?” Hanma melirik dua pria yang sedari tadi bersama denganku.</p>

<p>“Oh iya, mereka katanya lagi nyariin kamu.”</p>

<p>Punggung Hanma menjadi titik pusat perhatianku. Bersama dua pria lainnya, mereka berbincang tak jauh dari posisiku berdiri.</p>

<p>Apa yang sebenarnya dibicarakan oleh pemuda pemuda itu. Satu hal yang terlintas diotakku adalah tentang perkelahian.</p>

<p>Aku tahu Hanma masih saja suka diam-diam berkelahi. Dia pun tahu aku tidak suka melihatnya beradu pukul makanya memilih bergerak dalam senyap tanpa sepengetahuanku.</p>

<p>“Lagi mikirin apa?”</p>

<p>Aku melonjak kaget mendengar suara Hanma yang berisik ditelinga. Rupanya ia sudah selesai, aku tidak menyadarinya.</p>

<p>“Mikirin jerapah.”</p>

<p>“Mikirin aku?”</p>

<p>“Pede banget.”</p>

<p>“Bukannya aku jerapah ya?”</p>

<p>“Kamu Hanma.”</p>

<p>“Iya, Hanma yang mirip jerapah, kan?”</p>

<p><strong>OMAKE</strong></p>

<p>Hanma Pov</p>

<p><em>“Tanganku bau rokok.”</em></p>

<p><em>“Osanai? Ngapain?”</em></p>

<p><em>“Mukanya serius banget, curiga ga ya?”</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kosmonaut.writeas.com/giraffe-fm6b</guid>
      <pubDate>Sat, 14 Aug 2021 16:16:15 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>