GIRAFFE
“Hanma.”
Tanganku mengudara, berayun kekanan dan kekiri. Senyuman manis sengaja aku ulas, diberikan pada pria jangkung diujung jalan. Kedua tungkai-ku bergerak cepat mendekatinya.
Ekspresi kaget yang kentara tergambar diwajah Hanma, buru-buru ia berlari kearah diriku dan langsung mengajak memutar arah.
“Kan udah dibilang, aku aja yang nyamperin kamu,” ujarnya. Tangan Hanma membalikkan tubuhku, dirangkulnya seraya menjauh dari tempat tersebut.
“Biar kamu ga capek, eh itu kenapa rame? Ada live busking ya?” Kepalaku memutar sembilan puluh derajat, berusaha untuk melihat keramaian dibelakang. Namun dengan cepat dialihkan oleh Hanma.
“Gaada, emang lagi rame aja.”
Aku mengangguk percaya.
Tangan Hanma turun dari pundakku. Berjalan beriringan menyusuri jalanan ramai. Jika bersebelahan dengannya sering kali orang beranggapan bahwa kami adalah sepasang kakak beradik, melihat dari selisih tinggi badan, aku tidak bisa menyangkal, aku pun bila jadi orang lain akan berpikir demikian.
Hanma sangat tinggi, seperti jerapah. Aku terkekeh, gambaran jerapah dengan wajah Hanma seketika terlintas diotak.
“Kenapa?”
Aku mendongak, masih dengan tawa menjawab pertanyaannya. “Tiba-tiba kepikiran kamu kalo jadi jerapah, lucu.” Aku menggenggam tangan Hanma dan merapati tubuhnya.
“Eh?”
Hanma melepas genggaman, ia menjauh. Senyumku perlahan memudar, Jelas saja aku khawatir. Apa aku melakukan hal yang salah? Sebelumnya tak pernah begini, apa Hanma tidak suka dibayangkan mirip jerapah?
“Aku cuci tangan dulu,” ucapnya tegas.
Ah, mengejutkan saja.
“Kotor,” lanjutnya sembari menunjukkan telapak tangannya padaku.
Hanma, aku penasaran, apakah matamu memiliki fitur seperti mikroskop sehingga bisa melihat kuman dan bakteri yang ukurannya tak terlihat oleh mata? Karena indera penglihatanku tidak bisa melihat kekotoran disana.
“Ga kotor kok, tapi kalo mau cuci tangan, ya cuci aja.”
“Bentar ya, kamu tunggu disini aja.”
Hawa dingin mencekam membuat bulu kuduk meremang. Suasana yang mulanya tenang mendadak menjadi suram. Benar-benar aura yang luar biasa. Aku menoleh kearah sumber keberadaan yang mencekam.
Hanma?
Gelap seolah memancar darinya, rautnya tenang namun tersirat amarah.
“Han, udah balik ya. Kenapa? Kok keliatan muram?”
Oh, dia tersenyum. “Gapapa,” ucapnya. “Kamu ngapain sama mereka?” Hanma melirik dua pria yang sedari tadi bersama denganku.
“Oh iya, mereka katanya lagi nyariin kamu.”
Punggung Hanma menjadi titik pusat perhatianku. Bersama dua pria lainnya, mereka berbincang tak jauh dari posisiku berdiri.
Apa yang sebenarnya dibicarakan oleh pemuda pemuda itu. Satu hal yang terlintas diotakku adalah tentang perkelahian.
Aku tahu Hanma masih saja suka diam-diam berkelahi. Dia pun tahu aku tidak suka melihatnya beradu pukul makanya memilih bergerak dalam senyap tanpa sepengetahuanku.
“Lagi mikirin apa?”
Aku melonjak kaget mendengar suara Hanma yang berisik ditelinga. Rupanya ia sudah selesai, aku tidak menyadarinya.
“Mikirin jerapah.”
“Mikirin aku?”
“Pede banget.”
“Bukannya aku jerapah ya?”
“Kamu Hanma.”
“Iya, Hanma yang mirip jerapah, kan?”
OMAKE
Hanma Pov
“Loh, kenapa kesini, jangan sampe keliatan orang orang ini.”
“Tanganku bau rokok.”
“Osanai? Ngapain?”
“Mukanya serius banget, curiga ga ya?”