#Kilas dalam sepur

6 jam. Waktu yang cukup untuk melukis senyum manis di kanvas hati. Perjalanan dari Rantau menuju Medan menyisakan benih afeksi yang tidak akan pernah tumbuh menjadi pokok asmara. Hanya ada kerinduan tak berujung.

Kebetulan. Ya, sececah kisah yang terjadi hanya karena sebuah kebetulan bukan karena takdir. Narasi kelanjutan kisah ini pun tidak pernah ada dalam buku nasib. Namun pertemuan yang seharusnya dilupakan justru tersimpan dalam ingat hingga termakan usia.

“Permisi.”

Suara bak melodi terdengar oleh rungu pria itu. Kepala terangkat menatap manusia yang mengganggu kegiatannya. Paras rupawan, surai indah berjuntai, tatapan sayu, adalah penggambaran dari sudut pandangnya mengenai sosok wanita dihadapan.

“Oh”

Dengan cepat ia mengangkat ransel hitam yang diletakan pada kursi disebelahnya. Senyuman ramah diberikan lalu bangku kosong itu menjadi tempat singgah.

Keisuke baji. Pria yang memiliki rambut panjang itu duduk merapat dengan jendela masih memperhatikan