Lipsturize
pairing : Ran Haitani x readers
Warning : slight NSFW.
Ran Haitani (20) Readers (20)
POV 3
Penulisan tidak sesuai PUEBI. (mungkin)
Kebiasaan, pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang individu dan yang dilakukannya secara berulang untuk hal yang sama.
Kebiasaan setiap manusia sudah pasti beragam. Contohnya seperti kekasih Ran Haitani yang terbiasa mengelupas bibir keringnya.
Kebanyakan orang menganggap mengelupas bibir bukan sesuatu hal yang besar. Bahkan pelaku pun beranggapan bahwa hal tersebut hanya kebiasaan buruk belaka. Namun, tahukah anda? mengelupas bibir termasuk dalam kategori self harm?
Ran sendiri tidak tahu, saja ia merasa gusar saat menyaksikan perempuan yang berstatus sebagai kekasihnya menyatukan dua jari, telunjuk dengan ibu jari di bibirnya lalu dijauhkan seraya membawa selerang bening keputihan.
“Hm? Kenapa?” sang puan bertanya tanya saat lengannya ditarik seketika oleh Ran.
Bibir yang awalnya tertutup tangan akhirnya terlihat, luka luka kecil berwarna merah terang menghiasi birai. Rupanya Ran terlambat bertindak, setiap bagian bibir yang mengering sudah terkelupas.
“Jangan ditarik tarik,” titah Ran. Pria itu mendengus tidak suka menyaksikan bibir yang terluka.
“Risih,” balas sang kekasih.
“Minum biar ga kering, jangan ditarik, emangnya ga sakit?”
“Sakit sih kalo udah selesai, tapi waktu ngelopekin satisfying .”
“Jadi selama ini bibir kamu merah merah karna dikelopekin?” tanya Ran.
“Ya ... Iya emang kenapa lagi?” yang ditanya keheranan, ia pikir Ran sudah pasti tahu hal itu.
“Kirain ciuman sama orang lain.”
Gelak tawa terdengar diruangan tempat keduanya bersemayam.
“Ran? Serius mikir gitu?”
“Sempat mikir gitu sih, jangan dikelopekin lagi ya? Kan sakit,” imbuh Ran seraya mengusap lembut bibir pujaan yang terluka.
“Aku gabisa janji, udah kebiasaan.” Terkatup terbuka, bibir bagian atas sang puan bertubrukan dengan ibu jari Ran yang masih setia diletakan pada bagian bawah bibir. Liur otomatis basahi jarinya.
“Bisa, kuncinya sadar aja kalo kamu lagi nyakitin diri kamu sendiri.”
Ran mendekati wajah perempuan dihadapan, jemarinya pindah ke bagian pipi untuk menahan kekasih agar tidak menjauhkan irasnya.
Alat perasa— lidahnya menjulur dan menjilat luka di bibir perempuannya. “Atau lebih mudah lagi kalau bibirnya ga kering sekalian, jadi ga akan mengelupas,” bisik Ran.
Tenang, setenang malam dipedesaan dolok. Wanita kekasih Ran hanya diam menatap iris violet dihadirat.
“Aku bisa bantu lembapin.” Ran berkisik.
“Hmm? kalau begitu mohon bantuannya tuan Haitani.”
Sekejap setelah selesai berbicara, bibir ranum yang bersolek luka luka langsung dilahap oleh Ran. Pergerakan lembut tidak terburu. Lidahnya membelai halus bibir sang kekasih. Dihisapnya hingga terasa asin dan manis dari darah yang tersisa.
Tak lagi merasakan cairan merah, Ran langsung melesat ketahap peraduan lidah.
“Hah”
Oksigen diraup cepat setelah pemisahan. Kening menyatu sambil menilik satu sama lain.
“Bibirku setiap hari kering,” ujar sang puan.
“Aku bisa melembapkannya setiap hari.”
Keduanya terkekeh.
“Modus.”
fin.