pulang sekolah

⚠ garing & cringe

Aku berjalan lunglai menuju gerbang sekolah. Arloji murah dipergelangan tangan aku lihat sejenak, sudah pukul setengah tiga sore. Mataku menyipit, mulut menganga lebar serta tanganku berusaha untuk menutupi.

Detik kemudian, bukan lagi sebab menguap tapi karena terkejut. Mulutku tetap terbuka lebar namun mataku kini ikut serta membelalak saat melihat pria menyebalkan yang memiliki hobi mangkir tengah duduk di sepeda motornya.

Kurva tak bisa kutekan, senyum bahagia timbul seketika. Langkah kupercepat bahkan setengah berlari.

“Katanya tadi mau cabuuut,” ucapku menggoda.

Rindou, pria itu menoleh dengan tatapan tajamnya. Setajam silet, nada bicara feni rose presenter program tv bertajuk silet terngiang ditelingaku.

“Lama,” sungutnya.

“Mana gue tau lo nungguin.”

“Yaudah buruan naik sini.”

Rindou menyalakan mesin motor, bersiap untuk berkendara. Satu menit ia diam menatap lurus kedepan sebelum akhirnya beralih ke arahku.

“Apa lagi, hm?”

“Helmnya mana?” tanganku mengudara, telapak keatas meminta pelindung kepala. Rindou menatap pintaan lalu selanjutnya kembali menilik wajahku.

“Ga romantis, masa cewenya ga dikasih helm, malah make sendiri,” gerutuku.

“Ck” Rindou mendecak, melepas helmnya. “Emang lo cewe gue?” ujarnya seraya memberi benda bulat kepadaku.

“Bukanlah,” sanggahku sembari mendekat, memposisikan kedua tangan disamping mulut dan sedikit menyatu dengan telinga Rindou, “Bukan cewe, tapi istri,” bisikku.

“Sinting,” balasnya.

Aku tergelak. Samar kulihat wajahnya merah, antara tersipu atau kepanasan.

Dengan Kecepatan standard Rindou melajukan kendaraannya. Soal tujuan, sudah pasti ia tau dimana letak rumahku, bukan sekali dua kali Rindou mengunjugi kediamanku.

“Rin, lo kenapa jarang masuk?” tanyaku iseng, aslinya sudah tahu bahwa pria ini dirumah bilangnya berangkat sekolah tapi nyampenya jarang, seringan belok main-main sama temennya.

“Ngurusin bisnis keluarga,” jawab Rindou.

“Iyadeh anak konglomerat.”

Rindou tak masuk sekolah bukanlah hal yang besar bagi keluarganya pun bagi dirinya sendiri toh, masa depan sudah terjamin. Tapi tetap saja jika orang tuanya tahu kelakuan Rindou, hukuman besar mungkin akan menimpanya.

“Masa lo sekolah pas kangen sama gue doang.” Aku menyeletuk percaya diri.

Anehnya Rindou malah tertawa. “Kalo gue sekolah pas kangen sama lu doang, absen gue bakal bersih.”

“Ha?”

“Karena gue kangennya setiap hari,” lanjutnya.

Ya Tuhan sejak kapan Rindou jago banget ngalusnya. Aku tanpa sadar memukul kepalanya. “Dilarang gombal.”

Tega banget bikin jantung anak orang empot-empotan.

“Lo yang mulai, giliran dibalas malah kesel.”

“Cuma gue yang boleh gombal, pihak Rindou Haitani dilarang keras.”

“Iya, terserah istri aja.”

Epic comeback

Dinding pipi bagian dalam terapit diantara gigiku demi meminimalisir rasa bergejolak didada.

“Curang.”

Setengah jam di perjalanan. Saling menyerang dengan rayuan manis yang sukses mengundang kupu-kupu dalam perut.

Status menjadi enigma tak berkesudahan.

“Ga mau mampir dulu?” tawarku. Dua tungkai telah bertapak pada tanah, rumah sudah didepan mata.

“Ga dulu, nanti aja pas lamaran,” jawab Rindou.

“Udahan ngapa, malah ketagihan ngegombal anak ini.”

Rin tergelak, tangannya bekerja membuka helm yang terpasang dikepalaku.

“Sori sori, masuk sana panas nih,” serunya.

“Yaudah, hati hati dijalan rin rin, besok sekolah ya!”

Walaupun tahu persenan Rindou pergi sekolah tak lebih dari dua puluh persen, tapi gapapa, gak ada salahnya nyoba nyuruh dia sekolah.

“Masuk dulu ya,” pamitku.

Baru selangkah sudah ditahan, tas punggungku ditarik kebelakang hingga kembali ke posisi semula.

“Duh kenapa lagi, udah kaya di drakor aja.”

Rindou beranjak dari motornya semakin dekat, berhenti di sebelah wajahku.

“Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya,” bisiknya.

“Rin?”

“Iya?”

“Itu lirik lagu dewa sembilan belas yang kangen, kan?”

“Iya, kenapa?”

“Ngapaiiin? Apa maksudnya bisikin itu.” Aku meringis menahan malu, padahal Rindou yang berbuat tapi kenapa aku yang merasa malu.

“Biar romantislah.”

“Ah udahlah jenaka banget lo, pulang sana urusin bisnis keluarga.”

Rindou nurut, kembali ia menaiki sepeda motor dan menyalakannya.

“Semua kata rindumu semakin~”

“Diem.”


Lo bayangin, lagu bukannya dinyanyiin malah dijadiin puisi. Gue sih capek 😭