Bunyi bel rumah terdengar nyaring ditelinga, namun enggan aku bergerak dari sofa yang kelewat nyaman disinggahi ini. Mataku bergulir menatap jam dinding, pukul setengah enam sore siapa yang datang diwaktu ini, pikirku.
“Iya, sebentar,” sahutku pelan.
Kenop ditekan kebawah, pintu serupa persegi panjang itu aku gerakkan hingga terbuka akses keluar rumah, hembusan angin seketika menerpa sekujur tubuhku. Ah, setelan yang hitam dari atas hingga bawah ini, aku mengenalnya.
“Yohan, apa yang membawamu kemari?”
Bocah tinggi itu tidak menjawab pertanyaanku, aku sudah terbiasa. Ia menatapku tajam. Oh, Yohan bisakah kau berbicara dengan mulutmu daripada melalui matamu, anak baik?
“Anjing siapa yang kau bawa?” tanyaku tanggap melihat seekor anjing putih dengan telinga merah muda digendongan pemuda itu.
“Aku menemukannya di jalanan,” jawab Yohan.
“Keadaannya terlihat buruk, bukankah sebaiknya kita membawanya ke dokter hewan?”
Jadi ini yang membawamu datang kerumahku, Yohan. Entah sejak kapan bocah ini menjadi sangat dekat denganku hingga kediamanku tidak lagi asing baginya. Sejujurnya Yohan pun sudah aku anggap sebagai adik laki-laki ku sendiri.
Kupikir itu adalah sebuah keajaiban, kita yang tidak terikat hubungan apapun menjadi terpaut jalinan yang tidak jelas dinamakan apa.
Adik dan kakak, mungkin?
“Tunggu sebentar aku akan bersiap, kau masuklah dulu.”
___